Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2012

Bahasa Logo (2)

Beberapa saat yang lalu, universitas saya mengadakan kompetisi logo untuk memperingati 70 tahun nya. Ya, meskipun tidak memenangkan perlombaan itu, saya cukup puas dengan hasil karya yang saya buat. Here is it...

Universitas Islam Indonesia (UII) telah memasuki usia yang tidak muda lagi. 7 dasawarsa sudah UII terus berupaya mendidik putra/ putri bangsa menjadi generasi penerus yang tak hanya unggul di bidang intelektual namun juga di bidang spiritual keagamaan. Menjadi insan Rahmatan lil alamin… Bentuk 1.Secara utuh, logo berwujud angka 70 yang menandakan usia 70 tahun UII. 2.Angka 7 yang agak bergelombang menunjukkan sikap UII yang selalu fleksibel dan terus berinovasi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. 3.Angka 0 dengan tiga gelombang di atasnya distiller merupakan wujud dari jari tangan yang menggabungkan antara telunjuk dan ibu jari dengan tiga jari lain mengarah ke atas. Bentuk tersebut mengisyaratkan kesempurnaan/ perfection. 4.Bentuk globe/ peta dunia di tengah angka 0 yang meru…

Jarak itu (bukan) masalah

Siang tadi seorang teman kuliah memprotes tentang jauhnya letak kabupaten MBantul dari kabupaten Sleman. Apalagi Sleman wilayah UII yang lokasinya berada di Jl. Kaliurang Km. 14.5. Protes tersebut terdengan sangat rasional dan wajar bagi orang yang notabene bukan warga asli jogja. Terus, problemnya dimana? Adalah saya. Sebutlah waktu itu hari selasa pagi di semester 1. Semester awal yang menjadi fondasi IPK seorang mahasiswa. IPK? Lupakan! Mata kuliah waktu itu dimulai pukul 07.00. Entah apa yang membedakan antara bangku kuliah dengan bangku sekolah ketika pelajaran sama-sama dimulai pukul 07.00. Hitungannya adalah, butuh waktu kurang lebih 45-60 menit bagi saya untuk sampai ke kampus. Maklum saja saya tinggal di jarak 30 Km dari ruang kelas. Bantul. Kami lebih homy menyebutnya, MBantul. MBantul tanpa M di depannya terdengar sangat kota. Dengan jarak sedemikian “wahai”nya, saya tempuh dengan sepeda motor. Bukan berarti tidak hemat BBM tapi memang harus demikian. Transportasi umum neg…

Bahasa Logo (1)

Ramai sekali pembicaraan mengenai logo Palang Merah Indonesia (PMI) akhir-akhir ini. Twitter, TV, koran, mengulasnya secara mendetail. Bahkan petingggi negri ini, para anggota dewan yang terhormat itu "rela" terbang ke Denmark dan Turki untuk mengusutnya. Mulia sekali untuk sebuah logo. Permasalahan mendasarnya yang menurut saya dibesar besarkan adalah lambang red cross yang menjadi logo PMI diisukan mewakili golongan tertentu. Red cross yang menurut saya (lagi) distiller adalah salib diusulkan untuk digantikan dengan bulan sabit merah. Dalam hal ini, bukankan bulan sabit juga dapat diartikan mewakili golongan tertentu? Penting atau tidak makna sebuah logo adalah tergantung person yang menilai. Pada sudut pandang keilmuan yang mana ia berfikir. Bayangkan saja dampaknya jika sedikit-sedikit disangkutkan dengan unsur SARA. Seperti "petuah" budayawan Sudjiwotedjo dalam sebuah pertunjukan wayangnya, beliau mengatakan jika benar diganti hanya karena seolah-olah mewakil…

Yes, U are my friends

pictures : original PHARMATOGRAPHY
talent : rachmawati agustine, riatun azmi, ginna zabrina

Lelaki itu,

Nafas sesaknya membuat hati ini semakin merasa iba ketika berada di dekatnya. Tubuhnya yang selama ini gagah menjadi terlihat sangat rapuh. Namun dibalik itu semua, bacaan ayat Al-Quran dalam shalatnya masih terdengar lantang. Sangat lantang.
"Jangan lupa sholat 5 waktu ya... Ojo nganti lali..."
Beliau, embah saya. Lelaki berusia lebih dari 80tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta dengan semangatnya. Tubuh beliau yang sudah tak tegap lagi, bahkan cenderung membungkuk masih selalu mengerjakan shalat 5 waktu tepat waktu dan lengkap dengan sunahnya. Ketika tasyahud akhir, meskipun dengan tubuh yang hampir roboh ke kiri, beliau tetap berusaha bertahan tanpa menopang tubuhnya dengan tangan. Tangan itu baru akan tergerak menopang tubuhnya yang renta setelah salam terakhir.

"Jeng, arep dahar kapan?"

Kata itu selalu terucap dari mulut beliau ketika tiba jam makan. Menawari istrinya (yang berarti nenek saya) dengan lembut. Mbah Kayah. Beliau adalah istri kedua yang sang…

about women and flowers

waiting for her beloved...
best giving is her smile...
 as beautiful as flowers...
even sometimes, they get hurt...
women and flowers are two things that cant be dispart
All pictures are original PHARMATOGRAPHY Talent : Syifa Taqorina, Tarias Rahayu, Riatun Azmi, Rachmawati Agustine

Friend's Graduations...

Dearest my beloved friends, Endah and Tarias...












All I have to say is, Happy Graduation...


All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Talent : Tarias Rahayu, S. Farm and Endah Nurrohwinta S. Farm

Kami (sepertinya) telah dewasa...

Bunyi “Tuutt tuuutt….” Diikuti nyala lampu LED putih di ponsel saya menandai masuknya satu message dari WhatsApp. WhatsApp baru-baru ini menjadi aplikasi yang sangat asyik, semacam chating namun tak memerlukan akun. Cukup dengan nomor ponsel saja. Pesan itu datang beruntutan, jarang sekali seperti ini. Ternyata seseorang telah memasukkan saya ke dalam grup komunitas pemuda di desa. Tak banyak member di grup tersebut, namun sebagian besar saya tak mengenalinya. Maklum, vakum bertahun-tahun dari kegiatan pemuda membuat saya “asing”. Kevakuman saya tentunya bukan karena sebuah kemalasan, ada hal lain yang membuat saya merasa seolah-olah ditiadakan akibat sistem. Aahh, sudahlah… Pesan dari aplikasi yang sama pun masuk, “Ini aku dek…” Kata singkat itu mengawali semua hal yang baru dalam hidup saya. Seseorang yang pernah saya masukkan data black list’s friend,atau watchout! Friends, kembali menyapa. Biasa saja awalnya, bercanda tentang banyak hal di sekitar, bercerita kehidupan, dan lainnya…