Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, September 25, 2012

Bahasa Logo (2)

Beberapa saat yang lalu, universitas saya mengadakan kompetisi logo untuk memperingati 70 tahun nya. Ya, meskipun tidak memenangkan perlombaan itu, saya cukup puas dengan hasil karya yang saya buat.
Here is it...


Universitas Islam Indonesia (UII) telah memasuki usia yang tidak muda lagi. 7 dasawarsa sudah UII terus berupaya mendidik putra/ putri bangsa menjadi generasi penerus yang tak hanya unggul di bidang intelektual namun juga di bidang spiritual keagamaan. Menjadi insan Rahmatan lil alamin…
Bentuk
1.        Secara utuh, logo berwujud angka 70 yang menandakan usia 70 tahun UII.
2.    Angka 7 yang agak bergelombang menunjukkan sikap UII yang selalu fleksibel dan terus berinovasi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
3.  Angka 0 dengan tiga gelombang di atasnya distiller merupakan wujud dari jari tangan yang menggabungkan antara telunjuk dan ibu jari dengan tiga jari lain mengarah ke atas. Bentuk tersebut mengisyaratkan kesempurnaan/ perfection.
4.   Bentuk globe/ peta dunia di tengah angka 0 yang merupakan gabungan dari telunjuk dan ibu jari mengibaratkan optimisme UII untuk menjadi world class university serta perwujudan dari upaya menjadi Rahmatan lil alamin. Hal tersebut dapat tercapai dengan jalan kerja keras dari semua pihak yang disimbolkan dengan gambar tangan.
5.  Angka 0 dengan tiga gelombang di atasnya juga dapat distiller merupakan sebuah bola api yang mengisyaratkan gairah/ semangat dalam berusaha menjadi yang terbaik.
Warna
1.       Biru, diartikan sebagai ketegasan atau kewibawaan. Dapat diartikan bahwa diusia yang 70 tahun ini UII  akan semakin berwibawa dalam mendidik putra/ putrid bangsa.
2.      Kuning, diartikan sebagai pengarapan. Dapat diartikan bahwa UII selalu berkomitmen untuk mencetak lulusan yang berkualitas secara intelektual serta spiritual keagamaan. Warna tersebut diletakkan pada angka 0 yang mengelilingi globe, diartikan UII dapat berkontribusi bagi dunia internasional.
3.   Biru muda, merah, dan hijau pada gelombang di atas angka 0 diartikan sebagai spirit berinovasi, keberanian mencoba, dan kedewasaan dalam berfikir dan bertindak.

Saturday, September 15, 2012

Jarak itu (bukan) masalah


Siang tadi seorang teman kuliah memprotes tentang jauhnya letak kabupaten MBantul dari kabupaten Sleman. Apalagi Sleman wilayah UII yang lokasinya berada di Jl. Kaliurang Km. 14.5. Protes tersebut terdengan sangat rasional dan wajar bagi orang yang notabene bukan warga asli jogja. Terus, problemnya dimana? Adalah saya. Sebutlah waktu itu hari selasa pagi di semester 1. Semester awal yang menjadi fondasi IPK seorang mahasiswa. IPK? Lupakan! Mata kuliah waktu itu dimulai pukul 07.00. Entah apa yang membedakan antara bangku kuliah dengan bangku sekolah ketika pelajaran sama-sama dimulai pukul 07.00. Hitungannya adalah, butuh waktu kurang lebih 45-60 menit bagi saya untuk sampai ke kampus. Maklum saja saya tinggal di jarak 30 Km dari ruang kelas. Bantul. Kami lebih homy menyebutnya, MBantul. MBantul tanpa M di depannya terdengar sangat kota.
Dengan jarak sedemikian “wahai”nya, saya tempuh dengan sepeda motor. Bukan berarti tidak hemat BBM tapi memang harus demikian. Transportasi umum negara ini belum praktis dan masih berlibet. Maka teorinya adalah mau tidak mau jika kuliah pukul 07.00, saya harus tancap gas dari rumah pada pukul 06.00. Kecuali pagi itu, saya sangat terlambat. 06.30 saya baru keluar rumah. Maka tidak hanya gas yang saya pacu, otak saya juga. Katakanlah, 30 km ditempuh dengan kecepatan rata-rata 60km/jam berarti dibutuhkan setidaknya 30menit untuk sampai sehingga tepat pukul 07.00. Tapi tahukah anda, ada berapa banyak lampu merah di antara jarak 30 Km tersebut. Hitungan pasti saya menyebutkan ada 18 trafic light. Jika masing masing berhenti satu menit, berarti saya akan sampai pukul 07.18, maksimal 07.30. Masih sangat realistis untuk dimaklumi. Pikir saya saat itu.
Suara derit pintu melepaskan semua konsentrasi penghuni ruangan itu. Seseorang yang bergelar dosen yang tengah berdiri di depan sigap melirik jam. Memasang muka sangar. Bertanya dengan intonasi yang saya yakin agak sok-sok an, tapi saya akui itu sangat menciutkan nyali. Saya? Ragu-ragu masuk. Senyum masam. Tampang innocent total.
Benar-benar saya ingat kata beliau dosen. “Maaf mbak sudah lebih dari 15 menit, masuk minggu depan saja”
Dan saya juga ingat kata saya. “Saya berangkat paling awal dibanding teman lain, pak. Taruhan nyawa dengan naik motor pada kecepatan antara 80-100Km/jam. 30 Km. 18 traffic light”
Dan tahukan anda, jawaban meyakinkan yang sengaja saya campur dengan nafas terengah-engah waktu itu sangat efektif……  <( -,^ )>
Setelahnya, saya sangat benci dengan orang yang beralasan masalah jarak!!!

picture: original PHARMATOGRAPHY

Bahasa Logo (1)

Ramai sekali pembicaraan mengenai logo Palang Merah Indonesia (PMI) akhir-akhir ini. Twitter, TV, koran, mengulasnya secara mendetail. Bahkan petingggi negri ini, para anggota dewan yang terhormat itu "rela" terbang ke Denmark dan Turki untuk mengusutnya. Mulia sekali untuk sebuah logo. Permasalahan mendasarnya yang menurut saya dibesar besarkan adalah lambang red cross yang menjadi logo PMI diisukan mewakili golongan tertentu. Red cross yang menurut saya (lagi) distiller adalah salib diusulkan untuk digantikan dengan bulan sabit merah. Dalam hal ini, bukankan bulan sabit juga dapat diartikan mewakili golongan tertentu?
Penting atau tidak makna sebuah logo adalah tergantung person yang menilai. Pada sudut pandang keilmuan yang mana ia berfikir. Bayangkan saja dampaknya jika sedikit-sedikit disangkutkan dengan unsur SARA. Seperti "petuah" budayawan Sudjiwotedjo dalam sebuah pertunjukan wayangnya, beliau mengatakan jika benar diganti hanya karena seolah-olah mewakili golongan tertentu, maka anak SD akan repot belajar berhitung karena takut menuliskan tambah (+). Berarti, nama lembaga "perdarahan" Indonesia tidak bisa lagi disebut PMI. Ingat, PMI adalah PALANG MERAH INDONESIA. Berarti pula diperlukan pemugaran logo disetiap cabang PMI dari unit pusat sampai unit palang merah remaja (PMR) di tingkat sekolah. Pada akhirnya adalah segala bentuk simbol seakan harus melalui tahapan verivikasi untuk bisa digunakan. Bukankah hal ini menimbulkan masalah bagi si pembuat simbol/logo?. Para designer. Membatasi kreativitas mereka bukanlah hal yang bijak.
Seperti filosofi sebuah nama. Banyak pihak mengatakan "apalah arti sebuah nama" hingga baru-baru ini banyak muncul nama  nyleneh yang menurut si pemberi nama adalah unik. Terkadang nyleneh dan unik memang susah dibedakan. Banyak pula pihak yang mengatakan "Nama adalah sebuah doa". Dua hal yang sangat bertolak belakang. Pihak satu mengacuhkan, pihak lainnya menaruh harapan. Saya tertarik opsi kedua, nama adalah sebuah doa.
Masih tentang nama. Nama menjadi sebuah warisan dari orang tua yang pertama kali kita terima, bahkan tanpa kita minta. Nama akan menjadi buah pemikiran/ karya orang tua yang berlaku sepanjang usia kita. Jadi, bagaimana mungkin bisa dikatakan "apalah arti sebuah nama". Terlepas dari doa yang disiratkan pada sebuah nama, begitu juga sebuah logo, ia coba membahasakan apa harapan dan makna dari suatu yang diwakilinya. Kenapa simbol Indonesia garuda? simbol Sea games 2012 komodo? atau merk Nike dengan logo centangnya?
Jadi, buka kembali ensiklopedi (tidak perlu sampai ke denmark atau turki) mengenai red cross. Seandainya tidak punya, cukup akses wikipedia disana terdapat banyak informasi. #Kalem

Yes, U are my friends







pictures : original PHARMATOGRAPHY
talent : rachmawati agustine, riatun azmi, ginna zabrina

Wednesday, September 5, 2012

Lelaki itu,

Nafas sesaknya membuat hati ini semakin merasa iba ketika berada di dekatnya. Tubuhnya yang selama ini gagah menjadi terlihat sangat rapuh. Namun dibalik itu semua, bacaan ayat Al-Quran dalam shalatnya masih terdengar lantang. Sangat lantang.

"Jangan lupa sholat 5 waktu ya... Ojo nganti lali..."

Beliau, embah saya. Lelaki berusia lebih dari 80tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta dengan semangatnya. Tubuh beliau yang sudah tak tegap lagi, bahkan cenderung membungkuk masih selalu mengerjakan shalat 5 waktu tepat waktu dan lengkap dengan sunahnya. Ketika tasyahud akhir, meskipun dengan tubuh yang hampir roboh ke kiri, beliau tetap berusaha bertahan tanpa menopang tubuhnya dengan tangan. Tangan itu baru akan tergerak menopang tubuhnya yang renta setelah salam terakhir.

"Jeng, arep dahar kapan?"

Kata itu selalu terucap dari mulut beliau ketika tiba jam makan. Menawari istrinya (yang berarti nenek saya) dengan lembut. Mbah Kayah. Beliau adalah istri kedua yang sangat menyayangi anak bawaan suaminya, termasuk ayah saya. Mbah Salamah, istri pertama mbah telah meninggal ketika melahirkan. Yang saya tahu, meskipun terbilang Ibu Tiri, mbah putri sangat jauh dari kesan "Ibu Tiri". Hingga sekarang, mbah menjalani hidup berdua. Berbagi dalam usia yang semakin bertambah, fisik yang semakin menurun. Mbah putri yang dulunya berdagang jamu pun sekarang hanya dapat terbaring di dipan. Kakinya sulit untuk berjalan. Romantisme di antara mereka selalu hadir. Dalam kepikunan masing-masing, dalam kurangnya pendengaran, dalam lemahnya fisik...
***

Berkulit hitam dengan beberapa bekas luka di kakinya. Bekas luka yang menjadi penanda penyakit diabetes bersarang di tubuhnya. Keturunan. Mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkan ia turut berkutat menjadi peminum setia metformin dan glibenklamid.
Pensiunan swasta. Banyak hal beliau kerjakan di waktu luangnya. Berkebun, membaca, hingga melakukan pekerjaan rumah tangga. Mencuci baju, piring, berbelanja, dll. Jangan dikira ia wanita, beliau ayah saya. Komitmen bersama. Itulah yang ayah dan ibu saya lakukan. Ketika ibu harus setiap hari berada di kantor. Maka tugas keibuan itu sementara ayah kerjakan, tanpa mengeluh. Tak banyak ayah lain yang mau melakukan hal semacam itu. Keluarga kami mencoba menjalaninya.
Teras rumah kami selalu spesial. Sering kami menghabiskan waktu menjelang sore untuk bertukar fikiran. Mengobrolkan cita-cita, berbagi pengalaman, dan tentunya menghabiskan berlembar-lembar halaman buku (membaca). Saya suka membaca, sangat mungkin itu keturunan dari ayah saya. Ayah mengajarkan kesederhanaan hidup, kesetiaan, dan keteguhan. Dunia dan akhirat. Terkadang, ketika berbenturan prinsip keagamaan (golongan islam), ayah selalu menyikapi dengan bijak.

“Bu, aku posone Jumat. Ibu terserah arep kapan…”
“Aku Sabtu nggih pak”
“Iyo, rapopo…”

Hal sepele yang sering jadi gawe di negaraini adalah tentang perbedaan puasa dan lebaran bagi umat Islam. NU. Muhammadiyah. Meski di luar sana, banyak perdebatan yang berujung pada debat kusir, di rumah saya selalu di selesaikan dengan indah… Itulah ayah dengan tanpa pemaksaan, itulah ibu dengan tanpa penghianatan…

***
Berambut ikal dengan badan gagah tinggi besar. Sangat pantas menenteng tas gunung lengkap dengan sepatu dan alat lainnya. Kegarangan yang tampak di luar akan langsung sirna ketika senyuman itu tersungging di bibirnya. Manis. Sangat manis. Ia selalu bersemangat menceritakan setiap detil yang terjadi ketika ia melakukan pendakian. Hobi yang sangat berpengaruh pada kepribadiannya.

"Tan Lalana !!!"

Pekikan semangat yang kurang lebih berarti never give up itu sering Ia smskan ketika kegalauan menghampiri saya. Abang, saya memanggilnya Mas. Dengan jarak usia 5 tahun, kami sering berbagi pengalaman. Selera kita 11:12, lebih tepatnya saya yang sering meniru ala Mas. Entah kenapa, Masselalu menjadi trend center untuk saya. Musik, warna, film, dll. Berada di dekatnya selalu merasa nyaman dan aman, bercerita dengannya seakan saya ikut ambil andil dalam kejadian itu. Akhir-akhir ini, kami mulai terbuka masalah cinta. Mas telah menemukan cinta, saya menunggu kepastian cinta...

***
"Udahh siap?? Setengah satu aku jemput ya... :) "

Sebuah sms masuk ke ponsel saya. Tersenyum. Hati ini dalam keadaan yang tak menentu. Senang, senang yang tetap mencoba terkontrol. Kami pergi. Menyusuri keramaian. Angin menerpa wajah ini. Senyum. Bahagia. Cerita. Diam.
Beberapa hari setelahnya, sepi. Tak banyak lagi sapaan selamat pagi, candaan yang sekedar membesarkan hati. Kemana ??? 
Nama itu terselip dalam simpulan doa panjangku. Tuhanku... aku ikut mauMu...
...
Sehari sebelumnya,
Dirumah yang berbeda, situasi yang tak sama. Seorang gadis lain mengucapkan kata yang sama kepada lelaki yang sama...
"Terimakasih untuk hari ini... :) sudah ajak saya keliling jogja..."
...
Basah. Mata ini basah.
Tuhan, Mbah kung, Bapak, Mas...
Lelaki itu,
membuat saya menangis...

Tuesday, September 4, 2012

about women and flowers

 waiting for her beloved...

best giving is her smile...

 as beautiful as flowers...

even sometimes, they get hurt...

women and flowers are two things that cant be dispart

All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Talent : Syifa Taqorina, Tarias Rahayu, Riatun Azmi, Rachmawati Agustine


Friend's Graduations...

Dearest my beloved friends, Endah and Tarias...













All I have to say is, Happy Graduation...



All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Talent : Tarias Rahayu, S. Farm and Endah Nurrohwinta S. Farm

Monday, September 3, 2012

Kami (sepertinya) telah dewasa...


Bunyi “Tuutt tuuutt….” Diikuti nyala lampu LED putih di ponsel saya menandai masuknya satu message dari WhatsApp. WhatsApp baru-baru ini menjadi aplikasi yang sangat asyik, semacam chating namun tak memerlukan akun. Cukup dengan nomor ponsel saja. Pesan itu datang beruntutan, jarang sekali seperti ini. Ternyata seseorang telah memasukkan saya ke dalam grup komunitas pemuda di desa. Tak banyak member di grup tersebut, namun sebagian besar saya tak mengenalinya. Maklum, vakum bertahun-tahun dari kegiatan pemuda membuat saya “asing”. Kevakuman saya tentunya bukan karena sebuah kemalasan, ada hal lain yang membuat saya merasa seolah-olah ditiadakan akibat sistem. Aahh, sudahlah…
Pesan dari aplikasi yang sama pun masuk,
“Ini aku dek…”
Kata singkat itu mengawali semua hal yang baru dalam hidup saya. Seseorang yang pernah saya masukkan data black list’s friend,atau watchout! Friends, kembali menyapa. Biasa saja awalnya, bercanda tentang banyak hal di sekitar, bercerita kehidupan, dan lainnya. Satu yang menarik, cerita tentang kakak saya.
“Sedekat apa Mas dengan kakak saya?”
That’s the point, bisa diartikan bahwa saya tidak dekat dengan kakak saya untuk urusan satu hal. Hati. Tak pernah mengalir obrolan tentang siapa suka siapa di atara kami. Kaku. But I love the way he loves me…
Beberapa malam yang lalu, ibu pernah bercerita tentang nama seorang gadis. Baru pertama kali ini nama itu masuk ke dalam lingkup keluarga kecil kami. Siapa, dari mana, apa urusannya. Cerita ibu menyimpulkan gadis tersebut menurutnya baik. Sebenarnya, kesimpulan itu dibuat atas dasar pembicaraan telepon selama beberapa menit. Not so bad, kesan pertama…
“Benar, kakakmu sekarang pacaran…”
Saad…kenapa saya harus tahu dari orang lain? Si Teman bercerita banyak hal tentang abangku satu-satunya itu. Mengirimkan beberapa foto si Embak yang belum saya kenal sama sekali. Tak apalah, kakakku sudah dewasa. May be this is the time… Congratz bro!
No metter who’ll be yours, no metter how beautiful she is…
No body can’t replace me in your heart…  Me as your only sister…
… … …


Tuhan telah memasukkan siang ke dalam malam. Sungguh kuasaNya tak terhingga…
Lepas maghrib kami keluar dari parkiran sebuah plaza di Yogyakarta. Film yang kami tonton mengisahkan percintaan yang rumit. Sama rumitnya dengan akhir ceritanya yang ternyata masih bersambung. Hhhmmm, membaca novelnya jauh lebih menyenangkan. Bagaimana tidak, membiarkan imajinasi ini menerawang jauhhhhhhh. Membuat sendiri karakter dari setiap tokohnya, membayangkan setting tempat maupun posisinya… membaca adalah sebah kebebasan tersendiri…
Motor berlist hijau dengan nomor polisi yang tak sempat saya hafal melaju setengah kencang menanjaki jembatan layang. Entah mengapa, tempat yang tinggi selalu menjadi daya tarik sendiri buat saya. Pernah suatu ketika di kampus, saya nekat naik hingga atap masjid kampus (Lt.4) hanya sekedar untuk menikmati gerimis. Saya akui, itu sssaaangat melankolis. Di atas jembatan yang kami lalui, view kota Jogja malam hari terlihat sangat manis. Kerlingan lampu dari setip “plentong” yang dinyalakan warga, secara tidak sengaja membentuk harmoni dengan malam.

“waaaaahh… sukaaa… mas pernah ke bukit bintang?”
“pernah, itu bukit lampu…”

Ya, kami. Saya dan teman black list saya yang telah resmi saya masukkan kembali ke white list. Kami baikan, meskipun tak pernah tahu kapan tepatnya kami musuhan.

“Simpan tanganku, karena besok aku mau tanganmu…”

Teman mengajak saya menonton sebuah film yang sudah ditontonnya. Tanpa tahu apa motivasinya, saya oke saja. Motivasi? Aaah, wanita. Klasik sekali pemikirannya…
Sebenarnya saya bukan seorang pendiam, tapi entah kenapa hari itu saya jadi irit sekali ngomongnya. Sepanjang film diputar, tak ada obrolan. Bodoh sekali, saya menjadi sosok yang membosankan. Menikmati kebersamaan dalam diam?? I never know…

I do waiting… what happen…what is it…
Yes, im a women.. and I play the rule for a women…
Waiting, till someday God give me the truth…

Lagi lagi saya menulis hal yang kurang penting, kebiasaan baru…!!!