Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, August 8, 2012

Mengulang (juga) sebuah proses...

Hall Laboratorium Farmasi UII sedikit lebih eye catching dengan tambahan interiornya. Memang, baru baru ini beberapa fakultas sibuk membenahi fisiknya. Tak apalah, semakin cantik tampilan sebuah gedung, berarti semakin serius orang-orangnya dalam menjalankan aktivitas dan tugas masing-masing. Semoga.
Terlepas dari itu semua, bangku tempat kami sering berdiskusi (dengan siapapun dan tentang apapun) telah terisi beberapa teman. Sibuk dengan obrolan tentang agenda penyambutan mahasiswa baru.
"Tau g mbak, jumlah mahasiswa baru kita berapa?"
"...berapa emangnya?"
"380an mbak, ini masih belum registrasi terakhir..."
Obrolan singkat namun padat. Padat karena menjadi pemikiran terkait kegiatan kemahasiswaan yang akan dijalankan. 380an untuk prodi saya dan itu belum ditambah  dari prodi lain. Hitungan kasar mungkin saja menembus angka 500orang untuk satu fakultas. Angka yang luar biasa mengingat gedung kuliah kami yang tergolong minimalis. Pertanyaan spontan kami adalah, mau dimana kuliah mereka nantinya???
Sudahlah... biar petinggi kampus ini yang memikirkan...
Jam dinding yang tergantung di Hall Lab menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tak ada bunyi khusus yang menandainya. 10.30 nanti, saya akan menemui dosen pembimbing. Tak usah dipertanyakan, ini urusan Skripsi.

Ruangan berpendingin itu lengang. Hanya ada satu dosen dan satu calon dosen duduk di dalam sedang mendiskusikan sesuatu. Hingga akhirnya datang satu dosen wanita dengan telepon genggam menempel seutuhnya di telinga. Sibuk bercakap. Mengeluh kedinginan. Mematikan AC. Sibuk bercakap lagi. Kami berdua (saya dan satu partner setia saya) hanya bisa bungkam. Skripsi kami bermasalah. Fatal. Bagian metode harus diubah. Bagaimana bisa hal itu terjadi, setelah semua diselesaikan, setelah sejumlah uang kami keluarkan, waktu, tenaga, pikiran semua tersalurkan...tiba-tiba kata-kata menyakitkan itu terlontar begitu saja...
"Metode Anda SALAH..."
Penelitian kami menguji efektivitas suatu sediaan obat yang dibandingkan dengan efektivitas obat sebelum dibuat sediaan (bentuk ekstrak). Butuh setidaknya 2 tahun kuliah untuk menjelaskan detilnya.
Kesalahan, lebih tepatnya ketidakcermatan ini mutlak menambah masa penelitian kami. Pendadaran yang seakan sudah di depan mata, sedikit beradu jarak kembali dengan kami.
Lantas, siapa yang salah????
Pertanyaan egois ini muncul di kepala kami. Pembimbing yang memang secara langsung beliau mengaku kurang cermat, atau kami yang memang kurang mengkaji literatur??
Secara bijak kami menyimpulkan, tak ada pihak yang patut disalahkan...semua ini proses... (meskipun kami jawab hanya di hati dan setetes air mata, setetes saja.)

Rumah saya, masih mungil di pinggir sawah dengan dua pohon mangga yang sedang berbunga di depan rumah. Buka puasa kami dengan menu seadanya. Oseng tempe, semur telur, sop dan kolak pisang. Semua tersaji rapi di meja yang dikerubuti empat orang pemiliknya. Sedikit malas untuk menikmatinya, namun saya harus tetap bersikap sewajarnya hingga akhirnya lepas sholat maghrib saya beranikan mengungkap hasil pertemuan saya dengan dosen pembimbing hari ini.
"Kok bisa, harusnya kamu bilang oke saya ulang, tapi biayanya saya tidak sanggup. Dosen kok seenaknya.."
Tatapan mata marah disertai suara yang tidak saya harapkan muncul itu justru terlontar pertama kali oleh ayah saya. Lelaki yang saya banggakan seutuhnya. Bagaimana bisa, biaya menjadi parameter utama pertimbangan beliau. Tidakkah ia berpikir bahwa membesarkan hati saya untuk tetap teguh menjalani kenyataan ini adalah prioritas utama beliau, tugas utamanya menajadi seorang ayah...

Ayah... hari ini adalah hari yang berat untuk anakmu ini...

Saya anggap Tuhan saya Yang Maha Esa sedang "sibuk" memverivikasi proposal  kehidupan saya supaya layak dijalankan dan dipertanggungjawabkan... Bukankan saya juga sering melakukan proses yang sama beberapa waktu lalu?? Menyoret, merubah, menghapus banyak proposal kegiatan...
Semua ada waktunya... God knows better...

No comments:

Post a Comment