Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Tuesday, July 31, 2012

SUBSIDI NON SUBSIDI

Siang yang terik di tengah antrian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Warna merah sebagai ciri utama SPBU nasional semakin ngejreng menyilaukan mata. Mungkin suatu saat warna merah itu perlu dirubah menjadi biru atau hijau sehingga ketika terkena sinar matahari, justru akan menimbulkan suasana menyejukkan,  seakan menghadirkan oase di tengah padang pasir...
Antrian panjang di siang Ramadhan memang menguji kesabaran. Terhitung sekitar 13 motor mengantre di depan saya untuk membeli rata-rata 10ribu rupiah bensin premium. Belum lagi antrean di samping saya mengingat SPBU ini memliliki 4 pos antrean motor yang berjajar. Jika dilihat sekilas, hampir semua motor yang berjajar adalah keluaran terbaru. Matic, bukan gigi. List dan warnanya pun masih halus. Memang, akhir-akhir ini masyarakat semakin dipermudah untuk mendapatkan 1 unit sepeda motor keluaran terbaru. Cukup dengan fotocpy kartu keluarga, KTP, dan uang muka 300ribu rupiah, satu unit motor matic bisa dibawa pulang. Tentunya dengan cicilan perbulan yang mereka anggap enteng. Pantas saja jalan semakin ramai, bensin semakin mahal (bensin adalah SDA yang tidak dapat diperbaharui sedangkan kebutuhannya semakin hari semakin meningkat), dan polusi udara tak terkendali. Mestinya pemerintah membuat aturan dalam pengeluaran kendaraan bemotor. Atau jangan-jangan, ada "sesuatu" juga yang mengiringi keluarnya plat-plat nomor baru itu. Entahlah...
Tak terasa antrean semakin bergerak maju, hingga gilirannya petugas berseragam merah yang belakangan saya tahu bernama Septi (sesuai nametag di seragamnya) memasang senyum. Senyum sesuai SOP yang dilontarkan pada pengantre depan saya. Sambil menunggu petugas melayani satu motor di depan saya, satu motor di antrean samping saya mendapat giliran maju.
"Maaf Bu, mulai 1 Agustus kemarin kendaraan dinas wajib memakai Pertamax (BBM non subsidi). Silahkan antre di sebelah sana..." petugas wanita yang tak saya ketahui namanya memberi penjelasan pada seorang ibu, tepatnya ibu-ibu tua dengan motor tua berplat merah.
"Oalah, iya to mbak..." Ibu itu menurut seutuhnya pada aturan dan kembali mengantre di antrean Pertamax yang lengang.
Kendaraan dinas/ plat merah. Hanya itu satu-satunya kriteria yang dicantumkan sebagai syarat kewajiban menggunakan Pertamax saat ini. Dimana letak masalahnya? Bukankah itu baik, bahwa jajaran pejabat publik pun memberikan contoh yang baik tentang penggunaan BBM non subsidi??
Ya, memang tak ada masalah dengan itu semua. Namun apakah aturan tahun kendaraan juga dibahas? saya yang memang belum membaca keseluruhan keputusan penggunaan BBM non subsidi, dengan melihat keadian di SPBU tadi merasa sangat menyayangkan.

Mari berpikir sejenak, berapa jumlah motor dan mobil dinas yang beredar di Indonesia? berapa banyak yang dipegang oleh pegawai yang tergolong mampu? Ibu tua yang saya temui di SPBU mungkin bukan satu satunya wanita tua yang beruntung mendapatkan kendaraan dinas. Beliau harus menyisihkan uangnya untuk membeli bensin non subsidi yang tentunya tidak termasuk dalam anggaran gaji bulanannya. Sementara motor yang ia pakai adalah keluaran lama, bsa jadi masih 2 tak. Sementara itu, dilihat dari antrean kendaraan di SPBU yang saya sebutkan banyak sekali motor motor baru yang bisa jadi pemiliknya jauh lebih mampu dibanding dengan ibu berplat motor merah tadi. Mereka dengan motor plat hitam barunya dengan bebas berkali kali mengantre untuk membeli BBM bersubsidi pemerintah. Ironi.

Sekedar info, motor yang saya pakai adalah motor gigi 4 tak keluaran tahun 2006 yang menurut rencana kebijakan sebelumnya masih diperbolehkan menggunakan premium.

No comments:

Post a Comment