Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, December 8, 2012

She is, RACHMAWATI AGUSTINE MACHTYAS

Traditional dance is seems like another art working...
Its compound of majesty, enchantmen, beauty, and many others...

black...

and white...

Talent : Rachmawati Agustine Machtyas
at Borobudur Tample, Centre of Java.
Original PHARMATOGRAPHY

We called it, soulmate...





She is, SYIFA ROHMAH TAQORINA




she always cheers me up...

"journalist" on duty... (part II)







so long mbah marijan...

kebijakan yang "MORAT - MARIT"

Melahirkan, adalah sebuah proses yang tidak biasa. Ada tawar menawar kehidupan, tarik ulur kematian, dan pertaruhan nyawa di dalamnya. Untuk itulah, Alloh "meletakkan" surga di bawah telapak kaki ibu... Subhanalloh...
Skenario Tuhan itu berawal dari nyeri hebat tiap 15 menit sekali, hingga continue di bagian perut (rahim). Kernyitan dahi itu terus menerus terbentuk, disertai erangan lirih serta cengkeraman erat di lengan sang suami.
"Sakit Ayah..."
Pasien itu tergeletak di salah satu bangsal di sebuah rumah sakit daerah di ujung kota DI Yogyakarta. Kamar kelas 2 yang disulap menjadi kelas 3 karena membeludaknya pasien bersalin/ melahirkan. Tak mengherankan jika kejadian seperti itu terjadi, pasalnya baru - baru ini masyarakat diayem-ayemi dengan sebuah jaminan kesejahteraan sosial khusus untuk ibu melahirkan yang diberi nama : JAMPERSAL (Jaminan Persalinan).
Apa dan bagaimana Jampersal ini???
Menurut beberapa sumber informasi yang saya kumpulkan, jampersal ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi akibat persalinan yang berlaku untuk semua lapisan masyarakat. Hal ini tertera pada sambutan Mentri Kesehatan yang tertuang dalam Petunjuk Teknis yang mengatakan "Jaminan Persalinan ini diberikan kepada semua ibu hamil agar dapat mengakses pemeriksaan persalinan, pertolongan persalinan, pemerikasaan nifas dan pelayanan KB oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan sehingga pada gilirannya dapat menekan angka kematian ibu dan bayi". Pada Petunjuk Teknis (Juknis) yang dirilis oleh Departemen Kesehatan RI itu dikatakan pula bahwa Jampersal menjamin seluruh biaya pengobatan ibu dan bayi selama melahirkan di Puskesmas atau RS Pemerintah. Pertanggungjawaban biaya tersebut berlaku untuk kelas 3 dan sarana pelayanan kesehatan.
Dana yang dikucurkan oleh pemerintah melalui APBN 2011 Kementrian Kesehatan cukup fantastis. Untuk Yogyakarta, dianggarkan sebesar 9,108,199,000 rupiah dengan perincian setiap kabupaten adalah sebagai berikut:
- Kab. Kulon Progo sebesar Rp 1,025,625,000
- Kab. Bantul sebesar Rp 2,402,298,000
- Kab. Gunung Kidul sebesar Rp 1,779,244,000
- Kab. Sleman sebesar Rp 2,877,167,000
- Kota Yogyakarta sebesar Rp 1,023,865,000
Jika dilihat dari besarnya dana yang dikeluarkan, maka terbayang betapa spesialnya peserta Jampersal nantinya, meskipun di kelas 3.
Namun, pada kenyataannya tak ada kebijakan yang tak cacat. Jaminan Persalinan yang terlihat cukup matang dalam penggodokannya, menuai pro kontra. Tak perlu saya jelaskan mendetail seperti apa pro kontra yang merebak di masyarakat, namun yang saya lihat dari apa yang saudara saya alami merupakan sebuah pelayanan buruk dari sebuah kebijakan yang mengatasnamakan kesejahteraan masyarakat.
Rumah sakit itu terletak di sebuah kabupaten di Yogyakarta. Pasangan suami istri itu memutuskan datang ke sana setelah sang istri merasakan nyeri hebat di rahimnya yang semakin lama semakin intens. Mereka datang sekitar pukul 23.00 WIB sehingga sesuai SOP rumah sakit, pasien masuk ke Instalasi Gawat Darurat. Sang ibu diperiksa sebentar dan kembali didiamkan karena menurut tenaga medis di sana sang ibu belum waktunya melahirkan. Erangan kesakitan membuat sang suami semakin panik. Bukan berupaya untuk memotivasi pasien supaya lebih kuat menghadapi persalinan, namun tenaga medis disana hanya berupaya untuk menjalankan tugasnya. Ya, sebatas menjalankan tugas tanpa menggunakan nurani mereka. Pasien tetap dibiarkan menunggu dengan sakit yang kiat kerap datang.

Pagi hari berikutnya, belum ada tanda yang menginstruksikan segera dilaksanakan persalinan. Beberapa kali ada tenaga medis yang datang namun sekedar mengantarkan koas/ dokter muda yang sedang observasi atau praktek. Manusiawikah???? seorang yang sedang kesakitan dijadikan totonan???? atau karena sang ibu adalah peserta jampersal???

Ada sedikit kelegaan ketika pagi itu, ada tenaga medis yang mengatakan bahwa akan dilakukan proses operasi, bukan persalinan normal. Sang ibu bahagia, meskipun tidak sesuai dengan keinginannya untuk melahirkan normal sekaligus konsekuensi pembayaran proses opersi caesar yang tidak menjadi tanggungan jampersal. Namun lagi-lagi, kabar itu berakhir buntung hanya karena ada inspeksi mendadak dari dinas kesehatan setempat yang dilanjutkan dengan syawalan, semua operasi hari itu dibatalkan. Tindakan macam apa ini??? Syawalan memang berpahala, namun membatalkan operasi pasien hanya karena hal itu sungguh diluar pemikiran orang normal. Ya, sang ibu kembali dengan kesakitannya.

Akhir dari kesemua itu, lahirlah seorang bayi mungil berenis kelamin wanita yang sehat dan cantik berhidung mancung. Kelahiran yang melalui banyak proses. Bayi itu lahir normal dengan berat badan 2.9kg, Alhamdulillah...
Meskipun tetap terlahir normal, namun proses kelahiran itu dilakukan pukul 2 siang. Bayangkan, si ibu harus menahan sakit sejak pukul 23.00 pada hari sebelumnya.

Sungguh sangat pantas bahwa surga di bawah telapak kaki ibu...

Dengan jampersal itu, pasien seperti disepelekan. Tak ada fasilitas baju bayi, handuk, ataupun popok. Bahkan untuk kendi tempat ari-ari (plasenta, dll) pun, pasien beli sendiri. Tak ada penjelasan fasilitas yang akan didapat pada sosialisasi.

Seharusnya, ketika kita berbicara sebuah kebijakan harus dengan sikap yang bijak. Tidak boleh ada pihak manapun yang merasa dirugikan ataupun dipersulit. Transparansi serta kejelasan kebijakan itu harus sepenuhnya disampaikan pada pihak terkait.

Tuesday, December 4, 2012

Klinik Baru Mas Tumijo...

Pernah saya tuliskan seseorang yang bernama mas Tumijo. Hari ini, saya kembali berkunjung ke rumah beliau. Saya masih ingat, terakhir kali saya berkunjung waktu itu Ny. Tumijo dengan ramah menyuguhkan segelas teh. Teh yang sangat nikmat ditengah hujan sore itu.


Halaman belakang rumah mas tumijo sudah berbeda. Bangunan baru yang lebih modern. Ada teras kecil di depannya. Meskipun masih sekitar pukul 9, halaman itu telah diparkiri dua motor. Meskipun begitu, mas tumijo menyempatkan menengok dan memersilahkan saya masuk.

"Lama nggak kesini mbak?"
Begitu sapaan mas tumijo. Sebuah sapaan yang mengisyaratkan beliau tidak lupa dengan saya.

Sempat saya mengedarkan pandangan ke sekitar. Ruagan sempit yang dulu terisi etalase yang dipenuhi dengan kamera itu sudah tak terlihat. Digantikan satu meja khas resepsionis didalam ruangan yang disetting semacam ruang tunggu. Jauh lebih lengang dan nyaman. Ya, jadi semacam klinik pengobatan dengan mas Tumijo sebagai dokternya.


Dengan cekatan mas Tumijo segera "membedah" Nikon D90 milik teman saya yang terendam air sungai dua hari yang lalu. Acara makrab pada waktu itu. Meskipun sebentar, air telah masuk ke bagian komponen kamera. Sudah ada beberapa karat di bagian PCBnya. Kejadian yang sungguh membuat teman saya risau. Jelas. Saya yang membantunya saja ikut deg-degan, berharap karat itu belum menjalar kemana-mana.


Pada akhirnya, saya hanya pasrah saja, berharap mas Tumijo bisa menyembuhkan pasien yang saya bawa...

Sunday, November 25, 2012

birthday present


Mamo's birthday


Nuna's birthday


Mencoba membuat sesuatu yang berbeda, untuk mereka.
Yang lain? tunggu saja! :)

Anda tertarik? contact me! #promosi.

this's original PHARMATOGRAPHY

Tuesday, November 20, 2012

Bukan warnaku.


Sore itu aku melihat dress berwarna peach dengan hiasan manik-manik yang dengan indahnya membentuk ornament bunga dan beberapa ukiran. Warnanya menawan, perpaduan dari gold, merah, hijau, silver, dan beberapa warna lain yang atraktif. Cantik. Pelayan toko itu mendekat. Mmungkin ia sadar telah agak lama aku terpaku pada dress itu. Ya, cukup lama. Dengan kesopanan standart SOP department store itu, ia menyapa. Berujar banyak hal tentang produk di depanku. Tentang ukuran lain yang kiranya muat untukku, tentang pilihan modelnya, dan lain sebagainya. Professional. Tak banyak tanggapan yang kulontarkan.

“Gaun yang bagus, tapi ini bukan warna saya…”

Shit dejavu. Kejadian itu muncul kembali ke memori otakku setelah melihat trailer sebuah film. Film yang berlokasi shooting di korea. Agak heran, akhir-akhir ini banyak sekali sinetron atau film yang berkiblat ke sana. Padahal tempat di Indonesia masih banyak yang jauh lebih menawan, sayangnya belum terpromosikan dengan baik. Dialognya pun hampir sama. Wanita dalam film itupun berkata pada teman disampingnya, bahwa itu bukan warna untuknya.

Warna. Satu komponen penyumbang keindahan dunia yang justru menjadi sentral dari keindahan itu. Bayangkan saja dunia versi black and white. Suram. Mungkin seperti itu pula tanggapan orang tentang manusia yang gemar dengan satu dua warna. Manusia suram. Boleh lah aku tertawa sinis dan mengatakan dengan bijak bahwa warna mencerminkan kepribadian. Hitam. Selalu kukatakan pada kawanku, hitam itu warna yang berkarakter kuat, berprinsip. Tanggapan mereka pun tetap sama, kusam. Kesukaan pada hitam adalah sebuah proses yang mendewasakan. Proses pendewasaan yang alamiah dialami setiap manusia menuju usia matangnya. Ingat, tua itu pasti namun dewasa itu pilihan. Tergantung manusianya akan memilih menjadi dewasa atau hanya stag pada satu point kehidupan yang nyaman tanpa pembelajaran. Push into the limit, orang Barat mengatakannya demikian. Hitam menyimpelkan sebuah kehidupan yang rumit. Introvert. Bukankan tingkat kesempurnaan itu juga berwarna hitam? Ketika semua warna dicampurkan, dia akan menjelma menjadi hitam. Sabuk tertinggi dalam pencak silat juga hitam.

So, it’s a perfection.

Sunday, November 18, 2012

Lagu rindu


Malam hujan bembisukan alam. Lengang. Tak pernah kurasa setenang ini sebelumnya. Jiwa yang berpasrah pada keutuhan garis tanganNya. Ya, Dia tempatku menggantungkan segala asa. Asa tentang baik buruknya manusia. Dia, yang selalu kusebut diriNya Tuhan.

Tuhan, aku mengadu.
Tentang hujan sore ini yang mendatangkan rindu. Ya, rindu pada makhlukMu yang pernah Kau datangkan tanpa ku memintanya. Rindu yang terkumpul satu persatu kini telah menembus batas kuasaku. Ketika kutanya padaMu, harus kuapakan semua rindu itu. Kau jawab dengan hujan sore ini. Maka kuhanyutkan rindu itu, kularutkan setiap partikelnya pada tetesan air hujan, kuredam gemuruhnya ditiap bunyi rintikan, namun sia-sia. Tuhan, aku lupa. Rindu adalah energiMu, ia tak akan musnah, hanya wujudnya yang berubah…

Tuhan, aku mengadu.

Tentang perihnya merelakan, tentang sakitnya dicampakkan. Dia pergi dariku, itu yang kutahu. Bukan kuasaku untuk mendikteMu. Namun dia datang atas perintahMu, pergi sesuai inginMu. Maka bukan hal besar bagiMu untuk mendatangkannya tanpa harus pergi lagi... atau jusru menghapuskan semua tentangnya didiriku, sepenuhnya...

Dan pada akhirnya Tuhan, inilah strata hidup baru yang Kau namakan kedewasaan…

Me, my self, and books.

"Ndut, seneng banget sih foto pake buku."
"Nggak usah sok2an baca buku gitu deh ndut.."
"Kamu suka baca?"

Hei, membaca adalah sebuah proses yang cerdas. Imagine the world word by word...
Hobby membaca adalah sesuatu yang klasik. Dulu waktu masih berada di jenjang sekolah dasar, ketika ditanya hobby pasti jawabnya membaca. Padahal saya yakin waktu itu jawaban muncul karena asas ketenaran bahwa membaca adalah sesuatu yang keren. Bacaan utama waktu kecil adalah Bobo. Ingat? Yak, majalah dengan tokoh sentral seekor kelinci berbaju merah. Banyak tokoh dalam Bobo yang saya suka, hasan dan paman kikuk, bona dan rong-rong, kisah dari negri dongeng. Aah, dulu saya tak sekedar membaca. Bahkan mengahfal setiap ceritanya! Entah bagaimana dulu bisa saya lakukan. Mungkin karena waktu itu saya membaca sambil mengeja dan dengan suara yang lantang, tepatnya berteriak-teriak. Majalah Bobo itu sekarang entah sudah kemana, terakhir saya ingat mereka dibendel dalam satu jilidan besar yang tebal. Ada beberapa jilidan waktu itu, dan ditumpuk begitu saja. Sebenarnya sayang, tapi tak terpikir sayang waktu itu.

Mungkin saya termasuk orang yang imajiner (istilah saya), senang membayangkan sesuatu. Buruknya, ketika teman-teman saya berbicara tentang sesuatu yang menyangkut mistik, horror, imajinasi saya pun masih berputar-putar lama di kepala. Itu yang membuat saya terkesan penakut. Heeii, hanya terkesan. Aslinya mah saya pemberani. So, balik ke buku. Ayah saya, itulah sumbernya. Bertumpuk-tumpuk buku di almari dan rak-rak itu sudah habis dilalapnya. Kebanyakan tentang agama. Beliau selalu memrofokasi saya untuk membaca buku tafsir yang tebal dan berjilid2. Ya, itu belum saya lakukan. Saya lebih tertarik dengan imajinasi orang lain. Novel. Fiksi, ilmiah, sejarah, dll. Siapapun pengarangnya.

buku sejaran dan dinamika UII
One step forward, saya mulai menuliskan imajinasi saya ke dalam sebuah ketikan. Memang baru beberapa puluh lembar, we'll see apa jadinya besok. Bakal terbit kah? Hhhm, God knows!


kumpulan novel Ipung oleh Prie Gs

5 cm, by Dhoni Dhirgantoro


Sorry, agak narsis memang.. !

Brotherhood (part 1)


Tak ada jalan mulus yang kami lewati. Aspal rusak di sana-sini. Memperparah jalanan yang menanjak, menurun, berkelak-kelok semau si pembuatnya. Namun semuanya sebanding dengan view yang disajikan Tuhan. Terasiring di sepanjang perjalanan, bunga-bunga liar yang mulai semi setelah tersiram air hujan, dan senyum ramah warga yang kami lewati.

terasiring

First destination…

Petunjuk arah yang dibuat oleh mahasiswa KKN sebuah universitas swasta itu sangat membantu. Curug. Mungkin akan lebih familiar dengan istilah air terjun. Water fall. Terletak di sebuah desa Sumoroto, Sidoharjo, curug itu tak banyak dikenal orang. Ibaratnya masih perawan. Motor kami parkirkan di rumah Bapak Dukuh yang waktu itu tak berada di rumah. Menuju curug yang berjarak kurang lebih 500 meter dari kami memarkirkan motor, kami berjalan kaki. Jangan dikira sudah ada jalur khusus yang dibuat nyaman, akses menuju curug hanya jalan tanah yang berbatu, naik, turun, berbatu lagi. Bahkan tidak ada petunjuk harus berbelok kanan atau kiri. Maka, sepenuhnya kami patuh pada feeling. 500 meter yang cukup ngos-ngosan. Saat seperti inilah, akan terlihat siapa yang rajin berolahraga, siapa yang tidak. Sayangnya, saya termasuk kategori kedua.

Lelah menyusuri jalan menuju curuk yang sempat pula kami tersasar itu tidak terbayar lunas. Curug kering. Hujan beberapa hari yang lalu belum cukup mengembalikan kehidupan si curug. Tak apa, karena kami masih sempat berfoto di sekitarnya. Bayaran atas kelelahan itupun sedikit terlunasi. Keringnya curug itu kami jadikan satu alasan untuk kembali lagi lain suatu saat nanti. Harus!
Bunga liar
Kering



Thats my brother!

Saturday, November 17, 2012

Long weekend loh!

Hei, ini malam minggu. Entah apa sejarahnya, banyak orang berpacaran di malam ini. Plus, banyak pula yang sendirian. Haha, dunia memang selalu memasang homeostasisnya dengan pas. Nggak kurang, nggak lebih. So, aku termasuk golongan kedua. Sendirian di kamar, pasang headset beatsq tersayang (entah KW atau ori, namanya give ya diterima wae), daaaannn ngeblog. Eits, secangkir kopi juga. :)
Well, ini long weekend. Kamis, 15 November kemarin adalah 1 Muharam 1434 H. Happy Nu Years \(^^)/. Beda dengan malam minggu ini yang sialnya g turun hujan, kamis-jumat kemarin full hangout bareng Gokuraku. Kita ada sesi foto berkebaya. Ya, kebaya. Versi lebaynya kukatakan seperti ini, "Demi mereka ku rela..". Maka jadilah kamis kemarin adalah hari penyiksaan kedua setelah sesi foto pink pada semester awal. I dont really like pink! Tapi, begitulah pertemanan, selalu ada penekanan ego yang secara ikhlas dilakukan. Total ada 48 foto dengan 2 dresscode. 48 bukan jumlah yang banyak,  tapi memilih mana yang dicetak cukup membuat naik darah. Adalah satu teman saya yang egoisnya minta ampun, selalu melihat pose dia tok tanpa melihat yang lain. Bayangkan saja, kami bersebelas! Ada kata-kata dia yang pengen sekali kutimpali waktu itu, but didepan umum seperti kemarin bukan waktu yang tepat.
"Gara-gara kamu sih, ini fotonya jadi jelek." *Jiiitaaaaaaaaakkkk!!!
Hasilnya, 23 foto berhasil disortir dengan damai. Haha, kuambil alih proses sortir, agak anarkis memang.
Yak, mari berkebayaaa !! (w/ mae)

Banyak pose bikin lapar!
Sepanjang jalan kaliurang, banyak sekali tempat yang recommended untuk mengusir lapar. Pernah denger ayam goreng suka-suka? Bukan ngiklan sih, tapi tempat disana selain masakannya enakdan pelayanannya baik, tempatnya asik buat ngumpul. Sebenarnya, alasan pertama kami memilih tempat itu hanya karena dekat saja sih. Hehe. Seperti kebiasaan kita ketika memasuki sebuah tempat makan dengan konsep lesehan, kami selalu merepotkan. Ingat, bersebelas! tapi kami anti mengatasnamakan diri kami girlband (emang bukan). Kerepotan itu adalaaaah, ngobrak abrik meja. Tiga-empat meja selalu kami gabung jadi satu biar muat. Selain bersebelas, beberapa dari kami juga big size. ;)
Kan, 3 meja jadi 1.
Menjadi diri sendiri ketika makan adalah anugrah! Ada suatu kejadian tentang kebiasaan makan kami yang main comot sana sini, kasih sana sini. Ketuka itu di kantin kampus, ada teman diluar geng aneh kami yang ikut makan dan sepanjang kami makan dia hanya terbengong2. Setelah kami selesai makan pun dia belum selesai. Dengan lugunya dia bilang, "Kalian kok bisa makan kayak gitu sih?" jawaban kami kompak sekali, tertawa.
Dan, kantuk pun datang.. welcome... :)
Kosan di daerah pogung pun sempurna kami sabotase. Si pemilik kos, Endah hanya bisa pasrah kamarnya dimasuki 10orang yang sangat siap memenuhi setiap sudut kamarnya. No foto ya, pada nggak pake jilbab soalnya... :)
Well, seperti itulah kami ketika bersama. Entah apa namanya, edan gila atau sekedar ekspresif..tapi kami suka.

Bahagia adalah ketika kita bisa tertawa dengan membawa serta hati, pikiran, dan perasaan kedalamnya (Nurul)


Friday, November 9, 2012

Life's hard, so beat it up!!!


Adalah Prie Gs yang sudah “meracuni” otak saya lewat anak SMA bernama Ipung. Ya, anak SMA tengil. Jauh dari kata ganteng, bahkan nyrempet ganteng pun tidak (menurut imajinasi saya). Saya dan sejumlah orang lainnya merelakan diri belajar tentang kehidupan yang majemuk ini melalui bocah ABG!
Saya mengenal Ipung dari Teman. Setelahnya, Ipung dengan bebasnya berkeliiaran di benak saya. Berujar tentang hidup yang seolah-olah selalu bisa dia kendalikan dengan bualannya. Negosiasi, lebih tepatnya. Keahliah yang agak maksa bagi seorang anak SMA. Bahkan urusan cinta pun, masih ia negosiasikan. Tarik ulur yang sangat manis. Ketika ia tahu seorang gadis tercantik di sekolahnya bisa jatuh cinta padanya (saya namakan ini musibah) ia tidak langsung gegabah menunjukkan rasa cinta yang sama. Ada semacam pembelajaran yang ia berikan secara tidak langsung kepada si gadis melalui sikap cueknya yang terlalu tak peduli. Tak peduli yang terlalu cuek. Mengajarkan kesabaran dalam mencinta, tidak grusa grusu. Cinta, bersabarlah…

“Cinta tak Cuma ditunggu, tapi direbut…” Ipung

Mempertahankan kehormatan. Itulah yang sering ia kerjakan, parahnya dengan cara yang terkadang tak biasa. Ipung memang siswa miskin dan ndeso, tapi selalu tampil tanpa minder meskipun hatinya terkadang dag dig dug juga. Satu hal yang Ipung andalkan, kemampuan berbahasa (baik verbal maupun tulisan).
Selain Ipung, ada tiga tokoh sentral lain yang kang Prie Gs suguhkan. Tiga karakter wanita dengan pola hidup dan pemikiran yang berbeda. Paulin. Surtini. Ayunda.  Ketiganya (masih menurut imajinasi saya) mewakili karakter wanita yang memiliki kecantikan luar dalam. Paulin adalah wanita kaya yang mencintai ipung dengan mengedepankan emosinya. Ia tidak sabar ketika ipung dengan sengaja menarik ulur kisah mereka. Ia selalu memberikan aksi namun tak sabar menunggu reaksi. Meskipun tidak sabar, ia tetap menunggu. Surtini. Ia cerminan wanita dalam artian yang sebenarnya (opini). Sesuai kodratnya. Jatuh hati sampai patah hati, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Gadis desa yang hanya bisa menunjukkan cintanya lewat sikap welas asihnya, tutur katanya, dan kemuliaan hatinya. Pengabdian. Ia mengabdi pada ibu ipung. Selalu merelakan waktunya untuk lebih sibuk membantu ibu ipung. Manis. Cinta semacam ini memang menyiksa batin, tapi sangat manis. Murni ia mengharapkan penakdiran Tuhan atas orang yang dicintainya. Bukan mendikte Tuhan untuk menakdirkannya. Ayunda. Tak berbeda dengan Paulin. Ayunda mewakili remaja kota yang dinamis, namun frontal. Nekat untuk mendapatkan cinta. Frontal.

Saya. Dari ketiga karakter, mungkin saya adalah Surtini. Lebih senang bercengkrama tentang cinta pada Tuhan. Pada Ia Yang Maha Cinta. Meskipun memang sakit hati tak bisa dielakkan. Bahkan ketika telah sedekat apapun hubungan saya dengan orang yang saya cintai. Biarlah saya menjadi Surtini, mengindahkan cinta dengan bermain intuisi.

Terimakasih Teman, telah mengenalkan kang Prie Gs...
Hidup ini keras,maka GEBUKLAH!


Hai Teman, finally saya punya... :)

Saturday, October 20, 2012

Introducing, ARTSI.

Inilah ARTSI. Ajang Kreativitas dan Silaturahmi Mahasiswa Farmasi. Namun, saya lebih suka menuliskannya ARTsi. Ini bukan sebuah ajang kompetisi, bukan pula pagelaran atau open galery. Ini makrab. Penyambutan mahasiswa baru oleh kakak-kakak angkatan sebelumnya.
No seniority, No anarchy, just have fun!

Butuh persiapan yang luar biasa untuk menyelenggarakan event ini. Sebuah kebanggaan, saya bersama teman-teman lain pernah merasakan betapa dahsyatnya acara yang notabene adalah sebuah makrab. Berbaur dalam perbedaan konsep, bermain dengan dateline, berlelah-lelah merapatkan barisan, memutar otak untuk mencukupi anggaran. Kami. Kesuksesan itu karena kami, bukan aku.

Semangat ARTSI. Ibaratnya adalah sebuah semangat yang baru yang menggebu dari mahasiswa baru. Tujuannya jelas, membuat mereka akrab satu sama lain. Bagaimana membentuk karakter mahasiswa yang baik, tahu unggah ungguh tapi tanpa senioritas, tahu menghormati tapi tanpa kekerasan. Dalam ARTSI itu semua ditanamkan.

Logo di atas bukan logo permanen. berganti setiap tahunnya sesuai divisi Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi yang membuatnya. Logo ARTSI 2010 itu, saya yang membuat. Masih terekam di memori otak saya, tengah malam waktu itu ketika kawan saya menelpon untuk mengingatkan bagaimana logonya. Agak memaksa dipercepat mengingat kepentingan surat menyurat membutuhkan kop berlogo. Buntu. Puluhan kali berbagai bentuk dan warna saya coba rangkai, puluhan kali pula tombol delete segera saya tekan. Tak mudah memang membuat sebuah logo yang mewakili tujuan, visi misi dari sebuah event. Dini hari kala itu, ketika azan subuh sudah tak sabar berkumandang, saya masih terjaga. Meliuk liukkan jemari diatas mouse, memeras sisa imajinasi, dan tentunya mengganjal sekuat tenaga mata yang mulai redup berjam-jam lalu. Itulah begadang. Itulah mengejar dateline.

Orang lain mana tahu cerita dibalik logo itu. Cukup melihat. Sekedar memuji. Sekenanya mengkritik. Berlalu. Tak mengapa.

Segitiga, adalah lambang kekuatan. Bisa dimaknai sebuah gunung yang kokoh berdiri. Mencerminkan sebuah persatuan. Kebersamaan. Persaudaraan.
Bagian dalam segitiga sedikit menyerupai pesawat, maka dengan kebersamaan dan persaudaraan ini kami akan melesat jauh. Menggapai mimpi atau apapun yang menjadi tujuan hidup kami.
Rekahan di bagian bawah, menyimbolkan enzim dan substrat yang saling berikatan. Masing-masing individu memiliki karakter masing-masing yang dapat dipersatukan dalam ARTSI. Semacam enzim dan substrat setelah mereka berikatan, maka akan banyak aksi dan reaksi yang tercetus.
Perpaduan dari semua itu menghasilkan kecemerlangan. Kewibawaan. Ketegasan. Tercermin dalam pilihan font yang saya gunakan.

Jangan mengeluh kawan...
Segala keringat yang bercucuran,
setiap kantuk yang tertahan,
setiap pikiran yang terperas,
akan terbayar lunas dengan senyum bahagia adik-adik kita...
rasakan bahagianya,
rasakan keharuannya,
rasakan air mata itu,
mengalir bersama dengan pelukan kepuasan,
merembes dibahu setiap kawan yang dibanggakan...
saat seperti itulah, rasakan kemenangan!

So, ARTSI tahun ini, akan seperti apa ya? 

Friday, October 19, 2012

I do move on, like u said...


I don’t even know how can it just happen...
May be both of us, not really understand why it’s must happen…

Rindu adalah ketika separuh jiwa ini merasa hampa. Rindu adalah ketika jiwa ini merasa ada namun tak ada. Rindu adalah …

Hujan pertama musim ini. Sepanjang jalan kubiarkan tubuh ini menggigil. Ada sensasi lain dari dinginnya angin yang menerpa wajah lelah ini. Wajah setelah seharian berkutat dengan skripsi. Speedo meter menunjukkan 40km/jam. Kecepatan yang tak biasanya ku pakai untuk menggerakkan roda belakang motor merahku. Untuk apa buru-buru sampai rumah, fikirku. Biar saja jiwa raga ini terhanyut dalam melankoli hujan dengan bau aspal yang menentramkan.

Hujan gerimis. Seorang pria tiba-tiba saja melepas jaketnya, dan memakaikan atau sekedar memayungkannya pada serang wanita. Sedikit berlari mereka menuju sebuah emperan toko untuk berteduh. Ada pula seorang ABG yang sedang melampiaskan emosinya pada seorang pria. Pacar, itu kemungkinannya. Pada akhir emosinya, ABG itu berlalu meninggalkan pria itu dengan berlinang air mata. Kejadian yang banyak diadopsi oleh sutradara. Atau justru sebenarnya itu hanya adegan yang lahir dari pemikiran sutradara yang tak pernah nyata di dunia. Hujan ada disegala adegan film. Entahlah. Semua terjadi di gerimis sore itu. Dipikanku.

Kenapa hujan turun sore ini. Ketika harapan itu tak lagi nyata. Ketika wajah itu tak lagi ramah menyapa. Selamat pagi, kopi? Apakabar spongebob pagi ini? Ya Tuhan aku lupa, bahwa hidupku ada dalam kendali skenario filmMu… Jadi biarkan hujan tetap menerpaku sepanjang perjalanan ini.

Now I do move on, like u said…


Tuesday, September 25, 2012

Bahasa Logo (2)

Beberapa saat yang lalu, universitas saya mengadakan kompetisi logo untuk memperingati 70 tahun nya. Ya, meskipun tidak memenangkan perlombaan itu, saya cukup puas dengan hasil karya yang saya buat.
Here is it...


Universitas Islam Indonesia (UII) telah memasuki usia yang tidak muda lagi. 7 dasawarsa sudah UII terus berupaya mendidik putra/ putri bangsa menjadi generasi penerus yang tak hanya unggul di bidang intelektual namun juga di bidang spiritual keagamaan. Menjadi insan Rahmatan lil alamin…
Bentuk
1.        Secara utuh, logo berwujud angka 70 yang menandakan usia 70 tahun UII.
2.    Angka 7 yang agak bergelombang menunjukkan sikap UII yang selalu fleksibel dan terus berinovasi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
3.  Angka 0 dengan tiga gelombang di atasnya distiller merupakan wujud dari jari tangan yang menggabungkan antara telunjuk dan ibu jari dengan tiga jari lain mengarah ke atas. Bentuk tersebut mengisyaratkan kesempurnaan/ perfection.
4.   Bentuk globe/ peta dunia di tengah angka 0 yang merupakan gabungan dari telunjuk dan ibu jari mengibaratkan optimisme UII untuk menjadi world class university serta perwujudan dari upaya menjadi Rahmatan lil alamin. Hal tersebut dapat tercapai dengan jalan kerja keras dari semua pihak yang disimbolkan dengan gambar tangan.
5.  Angka 0 dengan tiga gelombang di atasnya juga dapat distiller merupakan sebuah bola api yang mengisyaratkan gairah/ semangat dalam berusaha menjadi yang terbaik.
Warna
1.       Biru, diartikan sebagai ketegasan atau kewibawaan. Dapat diartikan bahwa diusia yang 70 tahun ini UII  akan semakin berwibawa dalam mendidik putra/ putrid bangsa.
2.      Kuning, diartikan sebagai pengarapan. Dapat diartikan bahwa UII selalu berkomitmen untuk mencetak lulusan yang berkualitas secara intelektual serta spiritual keagamaan. Warna tersebut diletakkan pada angka 0 yang mengelilingi globe, diartikan UII dapat berkontribusi bagi dunia internasional.
3.   Biru muda, merah, dan hijau pada gelombang di atas angka 0 diartikan sebagai spirit berinovasi, keberanian mencoba, dan kedewasaan dalam berfikir dan bertindak.

Saturday, September 15, 2012

Jarak itu (bukan) masalah


Siang tadi seorang teman kuliah memprotes tentang jauhnya letak kabupaten MBantul dari kabupaten Sleman. Apalagi Sleman wilayah UII yang lokasinya berada di Jl. Kaliurang Km. 14.5. Protes tersebut terdengan sangat rasional dan wajar bagi orang yang notabene bukan warga asli jogja. Terus, problemnya dimana? Adalah saya. Sebutlah waktu itu hari selasa pagi di semester 1. Semester awal yang menjadi fondasi IPK seorang mahasiswa. IPK? Lupakan! Mata kuliah waktu itu dimulai pukul 07.00. Entah apa yang membedakan antara bangku kuliah dengan bangku sekolah ketika pelajaran sama-sama dimulai pukul 07.00. Hitungannya adalah, butuh waktu kurang lebih 45-60 menit bagi saya untuk sampai ke kampus. Maklum saja saya tinggal di jarak 30 Km dari ruang kelas. Bantul. Kami lebih homy menyebutnya, MBantul. MBantul tanpa M di depannya terdengar sangat kota.
Dengan jarak sedemikian “wahai”nya, saya tempuh dengan sepeda motor. Bukan berarti tidak hemat BBM tapi memang harus demikian. Transportasi umum negara ini belum praktis dan masih berlibet. Maka teorinya adalah mau tidak mau jika kuliah pukul 07.00, saya harus tancap gas dari rumah pada pukul 06.00. Kecuali pagi itu, saya sangat terlambat. 06.30 saya baru keluar rumah. Maka tidak hanya gas yang saya pacu, otak saya juga. Katakanlah, 30 km ditempuh dengan kecepatan rata-rata 60km/jam berarti dibutuhkan setidaknya 30menit untuk sampai sehingga tepat pukul 07.00. Tapi tahukah anda, ada berapa banyak lampu merah di antara jarak 30 Km tersebut. Hitungan pasti saya menyebutkan ada 18 trafic light. Jika masing masing berhenti satu menit, berarti saya akan sampai pukul 07.18, maksimal 07.30. Masih sangat realistis untuk dimaklumi. Pikir saya saat itu.
Suara derit pintu melepaskan semua konsentrasi penghuni ruangan itu. Seseorang yang bergelar dosen yang tengah berdiri di depan sigap melirik jam. Memasang muka sangar. Bertanya dengan intonasi yang saya yakin agak sok-sok an, tapi saya akui itu sangat menciutkan nyali. Saya? Ragu-ragu masuk. Senyum masam. Tampang innocent total.
Benar-benar saya ingat kata beliau dosen. “Maaf mbak sudah lebih dari 15 menit, masuk minggu depan saja”
Dan saya juga ingat kata saya. “Saya berangkat paling awal dibanding teman lain, pak. Taruhan nyawa dengan naik motor pada kecepatan antara 80-100Km/jam. 30 Km. 18 traffic light”
Dan tahukan anda, jawaban meyakinkan yang sengaja saya campur dengan nafas terengah-engah waktu itu sangat efektif……  <( -,^ )>
Setelahnya, saya sangat benci dengan orang yang beralasan masalah jarak!!!

picture: original PHARMATOGRAPHY

Bahasa Logo (1)

Ramai sekali pembicaraan mengenai logo Palang Merah Indonesia (PMI) akhir-akhir ini. Twitter, TV, koran, mengulasnya secara mendetail. Bahkan petingggi negri ini, para anggota dewan yang terhormat itu "rela" terbang ke Denmark dan Turki untuk mengusutnya. Mulia sekali untuk sebuah logo. Permasalahan mendasarnya yang menurut saya dibesar besarkan adalah lambang red cross yang menjadi logo PMI diisukan mewakili golongan tertentu. Red cross yang menurut saya (lagi) distiller adalah salib diusulkan untuk digantikan dengan bulan sabit merah. Dalam hal ini, bukankan bulan sabit juga dapat diartikan mewakili golongan tertentu?
Penting atau tidak makna sebuah logo adalah tergantung person yang menilai. Pada sudut pandang keilmuan yang mana ia berfikir. Bayangkan saja dampaknya jika sedikit-sedikit disangkutkan dengan unsur SARA. Seperti "petuah" budayawan Sudjiwotedjo dalam sebuah pertunjukan wayangnya, beliau mengatakan jika benar diganti hanya karena seolah-olah mewakili golongan tertentu, maka anak SD akan repot belajar berhitung karena takut menuliskan tambah (+). Berarti, nama lembaga "perdarahan" Indonesia tidak bisa lagi disebut PMI. Ingat, PMI adalah PALANG MERAH INDONESIA. Berarti pula diperlukan pemugaran logo disetiap cabang PMI dari unit pusat sampai unit palang merah remaja (PMR) di tingkat sekolah. Pada akhirnya adalah segala bentuk simbol seakan harus melalui tahapan verivikasi untuk bisa digunakan. Bukankah hal ini menimbulkan masalah bagi si pembuat simbol/logo?. Para designer. Membatasi kreativitas mereka bukanlah hal yang bijak.
Seperti filosofi sebuah nama. Banyak pihak mengatakan "apalah arti sebuah nama" hingga baru-baru ini banyak muncul nama  nyleneh yang menurut si pemberi nama adalah unik. Terkadang nyleneh dan unik memang susah dibedakan. Banyak pula pihak yang mengatakan "Nama adalah sebuah doa". Dua hal yang sangat bertolak belakang. Pihak satu mengacuhkan, pihak lainnya menaruh harapan. Saya tertarik opsi kedua, nama adalah sebuah doa.
Masih tentang nama. Nama menjadi sebuah warisan dari orang tua yang pertama kali kita terima, bahkan tanpa kita minta. Nama akan menjadi buah pemikiran/ karya orang tua yang berlaku sepanjang usia kita. Jadi, bagaimana mungkin bisa dikatakan "apalah arti sebuah nama". Terlepas dari doa yang disiratkan pada sebuah nama, begitu juga sebuah logo, ia coba membahasakan apa harapan dan makna dari suatu yang diwakilinya. Kenapa simbol Indonesia garuda? simbol Sea games 2012 komodo? atau merk Nike dengan logo centangnya?
Jadi, buka kembali ensiklopedi (tidak perlu sampai ke denmark atau turki) mengenai red cross. Seandainya tidak punya, cukup akses wikipedia disana terdapat banyak informasi. #Kalem

Yes, U are my friends







pictures : original PHARMATOGRAPHY
talent : rachmawati agustine, riatun azmi, ginna zabrina

Wednesday, September 5, 2012

Lelaki itu,

Nafas sesaknya membuat hati ini semakin merasa iba ketika berada di dekatnya. Tubuhnya yang selama ini gagah menjadi terlihat sangat rapuh. Namun dibalik itu semua, bacaan ayat Al-Quran dalam shalatnya masih terdengar lantang. Sangat lantang.

"Jangan lupa sholat 5 waktu ya... Ojo nganti lali..."

Beliau, embah saya. Lelaki berusia lebih dari 80tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta dengan semangatnya. Tubuh beliau yang sudah tak tegap lagi, bahkan cenderung membungkuk masih selalu mengerjakan shalat 5 waktu tepat waktu dan lengkap dengan sunahnya. Ketika tasyahud akhir, meskipun dengan tubuh yang hampir roboh ke kiri, beliau tetap berusaha bertahan tanpa menopang tubuhnya dengan tangan. Tangan itu baru akan tergerak menopang tubuhnya yang renta setelah salam terakhir.

"Jeng, arep dahar kapan?"

Kata itu selalu terucap dari mulut beliau ketika tiba jam makan. Menawari istrinya (yang berarti nenek saya) dengan lembut. Mbah Kayah. Beliau adalah istri kedua yang sangat menyayangi anak bawaan suaminya, termasuk ayah saya. Mbah Salamah, istri pertama mbah telah meninggal ketika melahirkan. Yang saya tahu, meskipun terbilang Ibu Tiri, mbah putri sangat jauh dari kesan "Ibu Tiri". Hingga sekarang, mbah menjalani hidup berdua. Berbagi dalam usia yang semakin bertambah, fisik yang semakin menurun. Mbah putri yang dulunya berdagang jamu pun sekarang hanya dapat terbaring di dipan. Kakinya sulit untuk berjalan. Romantisme di antara mereka selalu hadir. Dalam kepikunan masing-masing, dalam kurangnya pendengaran, dalam lemahnya fisik...
***

Berkulit hitam dengan beberapa bekas luka di kakinya. Bekas luka yang menjadi penanda penyakit diabetes bersarang di tubuhnya. Keturunan. Mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkan ia turut berkutat menjadi peminum setia metformin dan glibenklamid.
Pensiunan swasta. Banyak hal beliau kerjakan di waktu luangnya. Berkebun, membaca, hingga melakukan pekerjaan rumah tangga. Mencuci baju, piring, berbelanja, dll. Jangan dikira ia wanita, beliau ayah saya. Komitmen bersama. Itulah yang ayah dan ibu saya lakukan. Ketika ibu harus setiap hari berada di kantor. Maka tugas keibuan itu sementara ayah kerjakan, tanpa mengeluh. Tak banyak ayah lain yang mau melakukan hal semacam itu. Keluarga kami mencoba menjalaninya.
Teras rumah kami selalu spesial. Sering kami menghabiskan waktu menjelang sore untuk bertukar fikiran. Mengobrolkan cita-cita, berbagi pengalaman, dan tentunya menghabiskan berlembar-lembar halaman buku (membaca). Saya suka membaca, sangat mungkin itu keturunan dari ayah saya. Ayah mengajarkan kesederhanaan hidup, kesetiaan, dan keteguhan. Dunia dan akhirat. Terkadang, ketika berbenturan prinsip keagamaan (golongan islam), ayah selalu menyikapi dengan bijak.

“Bu, aku posone Jumat. Ibu terserah arep kapan…”
“Aku Sabtu nggih pak”
“Iyo, rapopo…”

Hal sepele yang sering jadi gawe di negaraini adalah tentang perbedaan puasa dan lebaran bagi umat Islam. NU. Muhammadiyah. Meski di luar sana, banyak perdebatan yang berujung pada debat kusir, di rumah saya selalu di selesaikan dengan indah… Itulah ayah dengan tanpa pemaksaan, itulah ibu dengan tanpa penghianatan…

***
Berambut ikal dengan badan gagah tinggi besar. Sangat pantas menenteng tas gunung lengkap dengan sepatu dan alat lainnya. Kegarangan yang tampak di luar akan langsung sirna ketika senyuman itu tersungging di bibirnya. Manis. Sangat manis. Ia selalu bersemangat menceritakan setiap detil yang terjadi ketika ia melakukan pendakian. Hobi yang sangat berpengaruh pada kepribadiannya.

"Tan Lalana !!!"

Pekikan semangat yang kurang lebih berarti never give up itu sering Ia smskan ketika kegalauan menghampiri saya. Abang, saya memanggilnya Mas. Dengan jarak usia 5 tahun, kami sering berbagi pengalaman. Selera kita 11:12, lebih tepatnya saya yang sering meniru ala Mas. Entah kenapa, Masselalu menjadi trend center untuk saya. Musik, warna, film, dll. Berada di dekatnya selalu merasa nyaman dan aman, bercerita dengannya seakan saya ikut ambil andil dalam kejadian itu. Akhir-akhir ini, kami mulai terbuka masalah cinta. Mas telah menemukan cinta, saya menunggu kepastian cinta...

***
"Udahh siap?? Setengah satu aku jemput ya... :) "

Sebuah sms masuk ke ponsel saya. Tersenyum. Hati ini dalam keadaan yang tak menentu. Senang, senang yang tetap mencoba terkontrol. Kami pergi. Menyusuri keramaian. Angin menerpa wajah ini. Senyum. Bahagia. Cerita. Diam.
Beberapa hari setelahnya, sepi. Tak banyak lagi sapaan selamat pagi, candaan yang sekedar membesarkan hati. Kemana ??? 
Nama itu terselip dalam simpulan doa panjangku. Tuhanku... aku ikut mauMu...
...
Sehari sebelumnya,
Dirumah yang berbeda, situasi yang tak sama. Seorang gadis lain mengucapkan kata yang sama kepada lelaki yang sama...
"Terimakasih untuk hari ini... :) sudah ajak saya keliling jogja..."
...
Basah. Mata ini basah.
Tuhan, Mbah kung, Bapak, Mas...
Lelaki itu,
membuat saya menangis...

Tuesday, September 4, 2012

about women and flowers

 waiting for her beloved...

best giving is her smile...

 as beautiful as flowers...

even sometimes, they get hurt...

women and flowers are two things that cant be dispart

All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Talent : Syifa Taqorina, Tarias Rahayu, Riatun Azmi, Rachmawati Agustine


Friend's Graduations...

Dearest my beloved friends, Endah and Tarias...













All I have to say is, Happy Graduation...



All pictures are original PHARMATOGRAPHY
Talent : Tarias Rahayu, S. Farm and Endah Nurrohwinta S. Farm