Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, October 26, 2011

Mas TUMIJO, namanya...

Sepasang muda mudi sedang berbincang asyik di lincak siang itu ketika saya parkirkan motor disebuah rumah yang belum rampung dibangun. Pasangan cowok memegang sebuah kamera dengan lensa panjang dan pasangan cewek bergaya ala kadarnya. Manis sekali. Malas untuk menyapa mereka, kuputuskan untuk menengok kesibukan di dalam. Ada dua buah etalase di ruang yang sempit namun penuh dengan komponen lensa, body, flash, atau hanya sekrup kamera. Cukup padat hingga kuputuskan untuk menunggu di luar...

Studio foto itu terletak di pinggir hamparan sawah. Asri. Tak megah atau modern seperti studio up to date jaman sekarang. Bahkan terlihat bukan seperti studio yang dimiliki oleh seorang yang profesional. Jika pagi hari, pintu belakang rumah menjadi lapak yang sangat open untuk siapa saja yang datang untuk menggunakan jasanya atau sekedar sharing, namun jika sore hari pintu depan rumah terbuka lebar untuk semua tamu yang datang. Saya termasuk tamu sore itu. Tepat 3 hari setelah kedatangan pertama saya untuk nyuci lensa kamera teman saya yang sedikit jamuran, saya kembali berkunjung untuk mengambilnya. Ada sebuah mobil plat "H" yang parkir di depan studio saat itu. Beberapa pemuda berpenampilan slengekan merokok di samping sawah, kesemuanya berkaos hitam. Seseorang yang berambut gondrong mengenakan kaos dengan tulisan fotografer.net di bagian belakang, dan seseorang lain mengenakan kaos bertuliskan mata semarang, seseorang lain entah apa. Mereka setia menunggu sang empu rumah yang sedang mandi.

Mas Tumijo, begitu orang mengenalnya. Pria dengan perawakan gagah, rambut semi gundul, berbicara santai apa adanya, jarang tertawa namun sangat terbuka, apalagi untuk hal satu ini, fotografi. Di tahun 1999 beliau memutuskan merintis sendiri usaha servis kamera dan jasa fotografi. Berbekal pengalaman yang ia dapat dari "ikut" orang alias bekerja pada orang lain dalam profesi yang sama yaitu servis kamera. Niatan untuk mandiri itu didasari kebutuhan hidup yang semakin meningkat sementara penghasilan dari menjadi karyawan tidak mencukupi. Tahun itu adalah tahun dimana putri pertamanya lahir. Sang istri yang juga memutuskan keluar dari pekerjaannya demi memberikan perhatian yang optimal pada sang putri, mendukung penuh apa yang dilakukan suaminya. Semua usaha itu mereka lakukan bersama demi melayakkan hidup dan dapat membesarkan putri pertama mereka, Arum...

Bukan hal yang mudah untuk mendirikan sebuah one stop photography yang menyediakan jasa foto, video, servis, cetak, dll. Maka, sebuah kios di samping Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjadi tempat pertama yang mas Tumijo yakini akan memberikan keberuntungan. Belum banyak yang mengenalnya kala itu, hingga ada seseorang yang memakai jasa servisnya menceritakan pada rekan-rekan seseorang tersebut yang kemudian memuji kehebatan servis beliau. Berawal dari situlah, nama Mas Tumijo mulai diperhitungkan dalam dunia servis kamera. Kiosnya yang di dekat ISI ramai pengunjung, rumahnya yang di desa Monggang juga tak sepi, selalu ada yang bertamu setiap harinya. Tak jarang ketika mas Tumijo berada di kios, tamu justru datang ke rumah atau sebaliknya. Untuk itulah, mas Tumijo menutup kiosnya dan memfokuskan kegiatan tersebut hanya di rumahnya. Semarang, kudus, solo, bahkan luar jawa pun datang pada mas Tumijo.

Istri adalah sumber inspirasi besar buat mas Tumijo, sekaligus spirit dalam hidup beliau. Ia tak penah mengeluh tentang pekerjaan suaminya yang sangat menyita banyak waktu. Bisa seharian mas Tumijo berada di ruang kerjanya, bercinta dengan obeng dan kabel kabel setipis rambut. Tak jarang, malam haripun mas Tumijo pergi keluar rumah untuk mengantar barang serivisan atau memenuhi order motret. Jarang ia diajak pergi berlibur atau hanya sekedar makan di luar. Namun, ia tetap setia tanpa mengeluh. Cintanya sungguh luar biasa.

"Pergi sebentar, pasti sudah ada yang nyariin..."

Meskipun istri selalu mendukung, satu orang selalu memprotes mas Tumijo. Si kecil Arini. Tahun ini ia masuk kelas 1 SD, sedang kakaknya (Arum) masuk kelas 1 SMP. Si kecil Arini selalu memrotes kesibukan Ayahnya yang tak pernah mengajaknya pergi atau tamasya. Namun lagi-lagi istri mas Tumijo mampu membesarkan hati si kecil dan memberikan kasih sayang yang luar biasa guna mengganti waktu mas Tumijo untuk anak-anaknya...
Kata istri mas Tumijo, Arum-lah yang terlihat antusias dengan pekerjaan ayahnya. Ia sering ikut ayahnya bekerja ketika ada order motret pengantin atau yang lainnya meskipun hanya kebagian sebagai petugas kabel. Ia sangat suka melihat ayahnya sibuk memegang kamera, memicingkan mata, dan belarian kecil mengejar objek.

"Punya dua anak, ya punya dua macam..."

Sampai saat ini, mas Tumijo mampu menghidupi keluarganya dari sebuah keberaniannya membuka usaha sendiri. Meski awalnya bergantung pada orang lain, namun pada akhirnya ia mampu berdiri sendiri. Saat ini, beliau memiliki 4 karyawan yang semuanya masih saudaranya. 2 orang beliau percaya memegang editing video, 2 orang lainnya ia percaya untuk ikut menservis kamera.

Banyak pelajaran yang saya dapat dari seorang mas Tumijo, kegigihannya, semangat menyejahterakan keluarga, kecintaan terhadap istri dan anaknya, keberanian mengambil keputusan, dan tentunya kepercayaannya terhadap Tuhan.

Memang benar, ketika kita mendapat sebuah kepercayaan, jangan pernah mencoba untuk menghianatinya...

No comments:

Post a Comment