Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Saturday, August 20, 2011

Tuhan tau, tapi menunggu... yakinlah !

Hal yang sederhana saya dapat hari ini dari seorang teman (baca: guru) baru dari Bangka. Beliau (sudah tua memang) seorang fotografer yang sudah berkaliber dan sudah melalang buana ke negeri orang. Profesional pokoknya ! Berawal dari sekedar chating via jejaring sosial facebook, beliau dengan tangan terbuka mau share ilmunya.

Menjadi fotografer, bukan pilihan hidupnya, namun sesuatu telah mengantarkannya ke sebuah profesi yang tak cukup hanya mencari duit saja. Ada passion tersendiri ketika tangan itu beradu dengan genggaman kamera, ketika jemari mulai memainkan tombol rana, dengan sedikit memicingkan mata untuk mendambakan sebuah angle yang dramatis... Nikmat itulah, kepuasan batin itulah yang susah didapat di profesi lainnya...

Ilmu yang beliau berikan standart saja, sebatas memainkan lensa, teknik-teknik mengambil gambar seperti panning, dan lainnya... Pembicaraan berubah ketika saya mengatakan ingin belajar melalui karya beliau. Saya bilang bahwa saya masih sekedar menjadi penikmat foto, bukan fotografer. Justru saya malu menyebut karya saya dengan embel-embel photography. Masih terlalu jauuuhh..... Tanggapan yang terlontar dari beliau sungguh tak pernah saya dapatkan dari kawan pehobby foto yang lain...

"Saya itu bukan fotografer kok, masih dibilang penikmat kayak yang tadi kamu bilang. Jadi orang yang bisa disebut fotografer itu nggak gampang, harus punya minimal kamera DSLR seri terendah dan memiliki karya yang memang bisa diperhitungkan. Nggak kayak sekarang, bisa motret dikit saja sudah main ngasih embel-embel "xxx" photography di setiap karyanya. Lucuu."

DEG ! nanceep sekali perkataan beliau. Sempat duluuu saya seperti apa yang beliau katakan. Bangga dengan menaruh nama "ndoet photography" di setiap foto saya yang saya rasa standar saja. Maluuu sekali mengingatnya. Memang sudah lama kata "ndoet photograpy" saya ganti dengan PHARMATOGRAPHY dengan niat sedikit menyamarkan kesan photography-nya. Saya memang belum pantas dan layak untuk sekedar dibilang jago motret, apalagi disebut fotografer. Lha wong kamera saja masih serabutan minjam ke teman...

Honestly, i will... i realy wanna be a photographer ! nggak peduli apa kata orang tentang saya yang mungkin mereka anggap sok-sok an, tapi itu impian saya. Ada sesuatu yang berbeda ketika saya motret. Entahlah, tapi ada soul lain dari diri saya yang tiba-tiba saja muncul. Sama seperti ketika saya mendengar seorang reporter tv atau news anchor yang mengakhiri reportasenya.

"Demikian yang dapat saya sampaikan, Nurul fatimah, adi prasetya, tv "x" melaporkan !"

Entahlah, mau dibawa kemana panggilan jiwa ini ketika orang tua saya sendiri kurang mendukungnya. Saya memang iri dengan orang-orang yang dengan gampangnya membeli sebuah kamera, namun saya juga banyak kecewa pada mereka yang sekedar ikut-ikutan meramaikan kegemaran ini. Sakit hati ! Lihat saja, akhir-akhir ini banyak kawula muda yang kemana-mana menenteng kamera DSLR yang tentunya tak murah, namun hanya sekedar main-main saja. Bukan hak saya memang untuk melarang, namun ketika kembali menatap diri sendiri rasanya saya tidak rela... ada orang yang benar-benar menginginkan, merintih pada tuhan, dan hampir gila hanya untuk sesuatu yang di sebut kamera namun realita yang ada, banyak orang yang dengan tak sengaja menodainya...

Tuhan tahu, tapi menunggu... yakinlah ! saat yang tepat itu, PASTI akan datang!

Text : Nurul Fatimah

No comments:

Post a Comment