Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, August 17, 2011

66 tahun Indonesia MERDEKA ?


Siang itu gencar terdengar kabar, bahwa presiden republik ini dijadwalkan akan mengunjungi korban bencana letusan gunung merapi. Ya, merapi kala itu sudah lumayan stabil. Bagi warga yang rumahnya masih layak huni, mereka memilih untuk kembali. Seperti warga masyarakat pakem gedhe, hampir seluruh warganya telah menempati rumah masing-masing karena wilayah mereka sudah tak masuk lagi dalam kategori zona berbahaya. Pakem gedhe terletak di Jl. Cangkringan Km.1 yang merupakan salah satu akses menuju cangkringan, daerah yang terkena dampak langsung awan panas merapi.

Kabar kedatangan presiden tersebut, ditanggapi dengan berbagai sikap oleh warga masyarakat. Kebanyakan diantara mereka yang cenderung malas untuk menanggapi. Ya, itu juga sebuah sikap.. Namun, ada satu hal yang menarik di sini...



Sebut saja namanya mbah Sudar. Seorang pribumi jawa asli (yogyakarta). Usianya, sudah lebih dari 70 tahun, namun beliau masih segar bugar. Resepnya adalah, beliau suka jalan kaki. Berita lewatnya presiden di Jl Cangkringan itupun tidak luput dari pendengarannya, sudah sejak pagi beliau stand by di pinggir jalan, padahal orang nomor satu itu dijadwalkan lewat sekitar tengah hari. Ya, hanya lewat saja... Lewatnya presiden ternyata memberi arti sendiri bagi mbah Sudar. Beliau benar-benar menghormati sosok presiden dalam arti harfiah, terlepas dari subjektifitas. Luar biasa, menurut saya... Ya, presiden adalah sebuah jabatan yang tidak biasa sehingga seseo
rang yang diamanahi jabatan itu tentunya harus orang yang tidak biasa juga. Ia akan menjadi pengayom rakyatnya, tampil sebagai pemersatu perbedaan, pendamai perselisihan... Lepas dari keindahan maknyanya, lihatlah realita bangsa ini sekarang. Korupsi merajai pikiran pejabat negara ini. Mereka seakan akan menuhankan uang, sehingga dalam kinerjanya segala sesuatu berorientasikan uang. Untuk menjadi pejabat mereka mengeluarkan uang, jadi ketika sudah menjabat...prioritas utama adalah balik modal. Balik modal??? tentunya tidak...mereka tak sekedar balik modal, tapi menghimpun modal baru untuk peluang lainnya.

Back to the issue, masih tentang sikap menghormati mbah Sudar terhadap pimpinannya. Karena saking menghormatinya, ia rela menunggu sang pemimpin selama berjam-jam, menunggu untuk sekedar melihat sosok yang dihormatinya lewat sambil melambaikan tangan...

Indonesiaku kini telah berusia 66 tahun. Usia yang seharusnya telah memasuki pendewasaan. Pada moment ini, sudah sepantasnya kita berbenah. Kita rombak habis-habisan segala hal yang tidak pantas dipertahankan.

Indonesia negeri yang ramah, bukan tempat para koruptor berumah...
Saya rakyat jelata negeri ini. Memilih wakil untuk bisa mensejahterakan kehidupan. Rakyat menggaji mahal orang-orang yang duduk terhormat di senayan untuk menjadi budak. Budak dalam mensejahterakan hidup... Karena kami menganggap mereka mampu... Kepercayaan seperti apa lagi yang harus kami berikan, bila setiap jengkalnya selalu saja ada penistaan... Kecewa, adakah hal lainselain kecewa??? Sudah bertahun-tahun, berkali-kali silih berganti buka-budak itu dipekejakan, namun hasilnya tanah kami masih gersang, panen kami sering gagal, anak kami kelaparan, sekolah tak terbayarkan, kesehatan??? apalagi kesehatan... tak sempat kami fikirkan...
Jauh di negeri orang sana, ramai-ramai duta pariwisata menggemborkan negeri ini subur dan kaya... tongkat dan batu jadi tanaman... Ya, memang benar itu semua, tapi mereka lupa bilang kalau di negeri gemah ripah loh jinawi ini kami makan beras import, garam import, gula import... import ! Hanya nasi aking, gaplek, dan sejenisnya yang sudah ramah dengan perut kami yang menjadi produk dalam negri... sehingga kami sangat bangga mengonsumsinya...
Presidenku, kami menghormatimu... menghormatimu sebagai seorang presiden... arahkan tatapanmu kebawah, lihatlah kami...
Jabatlah jabatan itu semampumu, kalau kau rasa sudah tak mampu... tinggalkan ! masih banyak calon budak kami yang mengantri...

Sebuah protokoler pengamanan kepresidenan. Berulang ulang mobil patroli ini menyisir jalan yang akan dilalui sang presiden.


Sekitar satu jam sebelum kedatangan sejumlah polisi dikerahkan untuk berbaris di sepanjang jalan yang akan dilalui. Sterilisasi.


dan pada akhirnya... mobil baja berplat Indonesia 1 itupun melintas... cukup kencang. Orang terhormat yang berada di dalamnya hanya melambaikan jemarinya lewat kaca samping mobil yang lebih dari setengahnya tertutup.


Mbah Sudar tersenyum sambil membungkukkan badannya, sayang tak terekam oleh lensa saya... Lambaian jemari sang presiden itu sudah lebih dari cukup untuk mengganti perjuangannya berjalan kaki menuju pinggir jalan, dan menunggu lebih dari setengah hari... Ditengah sikap apatis rakyat negeri ini, optimisme dan sikap husnuzon kepada pemimpin dari seorang mbah Sudar masih ada...

DIRGAHAYU BANGSAKU... Izinkan jiwa raga ini mengabdi untukmu...



Text : Nurul Fatimah
Pictures : original PHARMATOGRAPHY

No comments:

Post a Comment