Sugeng rawuh... Selamat datang... Ahlan wa sahlan... Welcome...

Wednesday, July 13, 2011

MERAPI..... "powerfull and wonderfull"

Sore itu terasa berbeda. Meskipun berada di lereng merapi, udara terasa lebih panas dari biasanya. Sudah beberapa hari merapi menjadi fokus semua perhatian publik terkait peningkatan aktifitasnya. Waspada. Siaga. Awas. Km 17, tepatnya di perempatan pakem seakan punya hajat akbar. Posko yang biasanya hanya terdapat 1-2 orang penjaga mendadak dipenuhi mobil-mobil pers lokal hingga nasional, RESCUE dari berbagai daerah (dilihat dari berbagai nomor plat mobil), TAGANA, TNI, dan yang lainnya. Mencekam. Semuanya siap siaga menunggu keputusan sang pemilik jagad raya.
Malam harinya, gaduh. Hujan abu menebal di atas. Km 17 masih terbilang aman. Layaknya jurnalis, sayapun ikut terjun langsung mengamati. Bekal sederhana, Canon D1000 punya teman. Ditambah beberapa kenalan tim TNI. Seorang reporter TV nasional sedang mengakhiri liputannya ketika saya datang. Tak lama kemudian, rombongan Sri Sultan HB X tiba setelah meninjau dari atas. Kabar yang dibawa berupa korban luka maupun meninggal dunia. Zona bahaya belum dinaikkan. Malam semakin larut, hujan abupun belum mereda, kuputuskan untuk pulang. Sebuah rumah di Jl. Pakem-turi Km1 menjadi tujuan saya berlindung. Kamar 3x4 itupun mendadak saya obrak abrik. Antisipasi kejadian yang diluar kemauan manusia, takdir Tuhan. Berkemas, hanya barang yang dirasa perlu untuk dibawa kumasukkan ransel. Jalan di depan rumah sepi, pertanda situasi masih terkendali. Lega. Kucoba tidur, namun mata tak kunjung terpejam, otak ini masih memikirkan beberapa kemungkinan. Kemungkinan yang sangat nyata adalah, esok pagi saya pulang ke Bantul. Sepanjang hari tadi, kampuspun berdesas desus tentang keinginan meliburkan mahasiswanya mengingat kondisi yang darurat. Km 14.5 tidak begitu jauh dari puncak, kampus itupun dilanda kegalauan. Belum ada keputusan jelas. Kuputar ulang kejadian bencana lain, gempa bumi yang terjadi tahun 2006. Rumah hancur, luka fisik dan juga mental. Bantulku saat itu lumpuh. Masih terdiam dalam lamunan, seketika jalanan depan rumah berubah. Mulai ramai. SMS terakhir dari tim SAR mengatakan pakem masih aman, kucoba berpegang pada keyakinan yang sama. Tak hanya suara motor, tiba-tiba sirine ambulan meruntuhkan keyakinan. Semuanya melaju dengan kecepatan yang tak bisa diartikan keadaan baik-baik saja. Keputusan kuambil, harus ke posko. Di luar rumah,masih hujan abu dengan intensitas yang sedikit meningkat. Posko hanya berjarak tak lebih dari 500 m. Keadaan benar-benar kacau di sana, puluhan truk mengangkut manusia (pengungsi) yang berlumur lumpur. Tak tampak wajah yang tenang malam itu. Tegang. Dini hari seperti ini, mungkinkah sang khaliq membuat keputusannya sekarang?? Tak terbayang, ada apa dan bagaimana di atas sana... Tanda lainpun akhirnya muncul, abu berubah menjadi pasir. Kekacauan bertambah. Tak egois, seorang TNI mengabariku bahwa pakem harus di kosongkan. Semua turun. Jl. Kaliurang mendadak menjadi jalan searah. Mencoba tak egois, kujemput tante dan 3 sepupu yang sedang ditinggal om untuk seminar. Mau tak mau, evakuasi itu harus sendirian dilakukan. 1 anak perempuan yang masih TK, 1 anak lelaki yang masih SD kelas 3, dan 1 anak lelaki SMA kelas 1. Semua masih tertidur, lelap. Semua menganggap merapi masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Bagiku, tak bisa biasa. Kupaksa mereka bangun, kukemas beberapa baju mereka, kukeluarkan 1 motor lagi. Diluar kerikil sudah turun. Kami berangkat, turun. Satu yang menjadi tujuan, rumah saya yang terletak 30 Km dari wilayah pakem. Bantul. Selamat tinggal Pakem.
Jalanan benar-benar tak bisa dikondisikan. Si anak pertama, ikut terevakuasi ke GOR kampus bersama anak kedua. Motor saya berhasil lolos, terus turun ke bawah. Menangis. Tuhan seperti marah. Bau belerang menyengat, pasir turun lebat, jalanan tak terlihat. Hanya mencoba tetap seimbang dalam mengemudi motor. Tante ribut tentang anaknya, si anak ketiga hanya terdiam tak tahu apa-apa. Tak ku hiraukan jeans dan baju klub fotografi kesayanganku terbalut pasir. Memasuki kawasan tugu Jogja, suasana berbeda. Lengang. Belum ada yang tahu keadaan merapi terbaru. Warga masih lelap, kami khawatir hebat. Beberapa yang belum terlelap hanya memandang kami heran. Beberapa yang berpapasan dengan kami melihat entah dengan perasaan dan fikiran yang bagaimana. Tujuan tetap sama, Bantul.
Rumah itu mungil, sangat berbeda dengan rumah di sampingnya yang berpagar tinggi. Namun, rumah mungil itu sangat hidup. Rumah saya. Kuberanikan mengetuk pintu. Seseorang membukanya. Terpaku. Terdiam. Terisak. Seseorang itu, Ayah... menyusul kemudian Ibu...
Kami selamat. Kami bersyukur. Menjelang subuh, anak pertama dan ke dua sampai juga di rumah mungil itu. Teh manis dinihari itu terasa lebih manis...
Biarkan merapi hidup menghidupi kami di sekitarnya...
Subhanalloh...
 

barang yang teramat berharga, prioritas utama yang harus di evakuasi masuk ransel...

contoh kesibukan posko utama... Jl. Kaliurang Km 17, Sleman, Yogyakarta.



1 comment:

  1. SEtahun lalu......
    entah pa yg kupikirkn saat itu
    cukup 1 kali

    ReplyDelete